Rabu, 05 April 2017

For Those Little Moment That Matter To Me



“Coba tebak papa bawa apa?”

Suatu hari, bertahun-tahun yang lalu, bapakku menunjukkan sebuah kantung kresek hitam padaku. Aku tak ingat benar berapa umurku waktu itu, sekitar kelas 5 atau 6 SD kalau tidak salah. Kupegang bungkusan itu, dan aku langsung tau, “domino!”, tebakku. Ya, domino-domino persegi berwarna putih-hijau untuk kami mainkan berdua. Aneh? Mungkin juga. Yang jelas dulu aku dan bapakku cukup sering menghabiskan malam untuk bermain catur dan domino berdua. Bapakku dulu juara catur se-Bandung pas jaman mahasiswa katanya. So, bukan hal yang mengherankan kalau aku nggak pernah menang melawan papa..hehe.. 

Jika kuputar lagi ingatanku, masa kanak-kanakku cukup banyak kulewatkan bersama bapak. Mulai dari membantuku mengerjakan PR matematika hingga mengantarkanku ke berbagai tempat terutama Gramedia atau pustaka wilayah. Disamping itu, aku sering ikut bapak kemana-mana. Aku anak bungsu, yang lahir menjelang usia beliau pensiun. Jadi  aku memiliki kemewahan untuk menghabiskan banyak waktu bersama bapakku. 

Sebenarnya, aku bukan penggemar berat permainan catur ataupun domino. Tapi ada perasaan hangat di hati setiap kali aku mengingat moment-momentku ketika bermain dengan bapak. Ketika aku berpikir bahwa aku berhasil skak-mat, tapi ujung-ujungnya kalah juga. Ketika bapakku terkekeh karena aku penasaran, tapi nggak berhasil-berhasil menang juga. Aku mengingat apa yang aku rasa dari berbagai moment itu. Bahwa dengan ‘hanya’ meluangkan waktu bagiku, bapak menyayangiku dengan sepenuh hati. Bukankah hati memang hanya bisa disentuh dengan hati?

Karena papa selalu mendoakan jodoh yang soleh untukmu

Aku ingat betul moment setelah lebaran tahun 2012 lalu. Ketika aku dilamar suamiku. Aku bertanya pada bapak, yang intinya kurang lebih, ‘bolehkah aku menikah, dengan pria yang baru sekali berkunjung ke rumah dan papa tak kenal sama sekali?’. Hal ini pasti terasa semacam bom kejutan bagi bapakku, meski begitu hal itu tak terlalu terpancar di wajahnya. Tidak seperti kakak-kakakku yang melalui proses berpacaran terlebih dahulu sebelum menikah, aku justru memutuskan ingin menikah dengan pria dari ‘antah-berantah’ yang tak pernah sekalipun apel di malam minggu. Bapakku bertanya tentang calon suamiku, dan akupun berusaha menjelaskan segamblang mungkin tentangnya, terutama tentang agamanya. Bapakku meminta calon suamiku datang ke rumah lagi, agar Beliau bisa mengenalnya lebih dekat. Aku ingat betul kalimat bapakku ketika akhirnya Beliau memberikanku restu:

Ya, mungkin memang sudah waktunya, papa selalu mendoakan jodoh yang soleh untuk Feby.” 

Begitulah, aku baru menyadari bahwa Bapakku memikirkanku melalui doa-doa rahasianya. Ah, aku menyadari betapa aku belum melakukan sesuatu yang berarti untuk membalas budi kepada Bapak. Dan aku tau, apapun yang kulakukan takkan pernah mampu untuk membalasnya. Palingan sepotong doa dari anak yang tak terlalu sholehah yang bisa kupanjatkan untuknya.

Kendati demikian, terkadang aku ingin memberikan sesuatu yang sederhana sebagai wujud perhatianku untuk bapak. Dan belum lama ini kudengar Beliau kesulitan mencari sarung berwarna putih polos untuk sholat. Hanya yang bercorak atau minimal bergaris-garis yang tersedia di toko-toko Pekanbaru. Aku tak mengerti kenapa harus warna putih dan polos, mungkin Bapak berharap sholatnya dapat lebih khusuk jika sholat dengan sarung polos. Iseng-iseng kucari juga sarung putih polos di kategor pakaian pria di Elevania. Dan untungnya ada!



Wah, aku senang sekali bisa memberikan sesuatu yang memang diinginkan Bapak. Memang, sarung ini bukanlah sesuatu yang ‘wah’ tapi paling tidak aku tau ini akan menyenangkan beliau. 

“Ah, sarung ini tak ada apa-apanya dibanding doa-doamu untukku, pa.”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar