Rabu, 08 Februari 2017

Sapa Temen Bakal Tinemu



“Adek merasa seperti sedang main monopoli yang kalah”, tuturku.

Ya, aq sempat merasa begitu beberapa bulan yang lalu. Tau permainan monopoli kan? Itu loh, mainan yang pake dadu, terus tugas kita beli-beli tanah dan bangun rumah/hotel di atasnya. Nanti siapa pun yang paling banyak hartanya, dia yang menang. Nah, pada pernah ngerasain kalah kan? Itu loh, yang tiap kali kita ngocok dadu jatuhnya ke tanah pemain lawan yang biaya sewanya gede mulu, udah gitu pas cabut kartu ‘kesempatan’ kita dapetnya kartu denda ato masuk penjara. Haha.. Nah, kurang lebih itu lah yang aku rasakan, kok ya perasaan tiap ‘ngocok dadu’ alias tiap bentar ada aja cobaanya. Yang mana pada akhirnya cobaan-cobaan itu mau nggak mau menyerang tabungan keluarga kami. Alias duit lagi, duit lagi.. 

Well, kalimat di atas adalah kalimat yang aq lontarkan kepada suamiku. Kalimat itu menjadi pembuka diskusi panjang lebar kami di tempat makan yang hiruk pikuk pada sebuah mall di malam itu. Setelah aq menjelaskan apa yang aq maksud pada suamiku, Beliau menjawab,

“Dek, mungkin kita sedang gagal di bidang ekonomi tapi harta dunia bukanlah sesuatu yang harus disedihkan. Adek tau nggak Sutan Batu Gana? Adek liat nggak foto-foto terakhirnya sebelum meninggal?”. Foto-foto itu benar-benar menunjukan betapa harta yang banyak itu tak ada gunanya. Ketika melihat gambar itu, jelaslah nasihat-nasihat ustad selama ini, betapa dunia itu cuma sementara. Mungkin kondisi kita sedang sulit, tapi jangan sampai kita marah pada Allah.”

“Adek nggak marah sama Allah”, potongku.

“Iya, tapi abang tetap harus mengingatkan adek. Mungkin saat ini kita digagalkan di bidang ekonomi, dan mungkin ada banyak kegagalan lain lagi di bidang lainya. Tapi kita nggak boleh gagal pada satu hal dek, kita nggak boleh gagal masuk surga…”

Sebenarnya, petuah suamiku masih panjang, tapi aku mau menekankan poin utama tulisan ini, yaitu nasihat suamiku : Jangan gagal masuk surga. Yah, kalimat itu menyentakku. Benar sekali, bukan? Karena jika tidak masuk surga, lalu kemana lagi? Karena kesempatan untuk mengejarnya ya cuma di dunia ini, dan jika gagal tidak bisa diperbaiki atau diulangi lagi. Karen kalau gagal, habis sudah… 

Jangan gagal masuk surga adalah #resolusiku2017 dan seumur hidup, Insya Allah. Mindset utama yang harus dipegang, dan selaras dengan tujuanku diciptakan yaitu “untuk menyembah Allah saja”.  Aq rasa semua orang yang percaya dengan keberadaan surga dan neraka menginginkan hal yang sama. Tapi apakah semuanya mengejarnya dengan sungguh-sungguh? Atau sekedar ucapan kosong yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi? Yah, aku akui saja, aq masih suka terlalaikan dengan perkara dunia yang kurang berguna. Masih nunda-nunda Sholat, masih males-malesan belajar tahsin, masih kepo dengan gosip artis, dan yang jelas masih kurang bersungguh-sungguh dalam mencari keridhoan Allah. 

Nah, dengan ‘resolusi’ yang baru ini, artinya aku benar-benar menjadikan mengejar surga sebagai fokus utamaku. Menguatkan niat dan usahaku agar bersungguh-sungguh mengejar surga-Nya. Seperti sebuah nasehat dari seorang pujangga Jawa, Ronggo Warsito, yang berkata : “sapa temen, bakal tinemu”. Yang kalo diterjemahkan bebas, artinya siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh (pokoknya sungguh-sungguhnya tingkat tinggi deh) akan mendapatkan hasilnya. 

Lalu apa langkah konkrit yang akan kuambil dari mindset baruku itu? Kalo soal ibadah apa saja yang akan kujalankan tidak akan aq jabarkan disini, tapi ada dua poin penting dari langkah-langkah yang akan kuambil kedepanya:

1. Benar-benar memperhatikan untuk apa waktuku kugunakan. 
Karena jika seseorang tidak disibukan dengan perkara berguna, maka ia pasti disibukan dengan perkara tak berguna.


2. Mempergiat diri mempelajari ilmu agama. Karena, bagaimana mungkin kita bisa mengejar ridho dari Allah, jika kita tidak mengetahui perkara-perkara apa saja yang diridhoi atau tidak diridhoi oleh Nya? 

Yah begitulah rencana ikhtiarku ke depanya, lalu soal merasa ‘kalah main monopoli’ itu bagaimana? Sebenarnya, sejak mendengar nasihat suamiku, hatiku sudah merasa agak sejuk. Apalagi ketika aq nggak sengaja membaca petuahnya Ronggo Warsito di sebuah rumah makan, dan berikut beberapa kalimatnya yang mengena :

Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi” (bukan banyaknya -rejeki- melainkan berkahnya yang menjadikanya cukup dan mencukupi)

“Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…” (untungnya ketentraman hati bisa dimiliki oleh siapa saja yang mau menentramkan batinnya dalam urusan dunia, suka menolong sesama dan memasrahkan hidupnya pada Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya)

*Btw, kalo dipikir-pikir, saling menguatkan dan menasehati dalam kebaikan itu romantis juga ya? Haha.. (minta dilempar pake sandal)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar