Selasa, 09 Agustus 2016

What Matters Most



Belum lama ini aku ngeliat share-sharean dari salah seorang anggota grup masak yang aku ikuti. Dia ngeshare gambar kue sejenis dadar banyak banget, yang diikuti dengan penjelasan kurang lebih : ‘memenuhi pesanan orang, nggak tidur semalaman’. Wew! Nggak tidur? Aku nggak tau itu hiperbola atau nggak, yang jelas itu kue pesanan emang banyak banget. Gambar itu membuat aku sedikit merenung dan teringat pada suatu waktu yang lalu, waktu aku nyoba untuk jualan kue. 

What? Kamu pernah jualan kue,Feb? Haha.. pernah, nggak sampai seminggu. Jadi ceritanya aku mau cari duit tambahan dari rumah, nah sebuah ide ‘cemerlang’ muncul di kepalaku, yaitu jualan kue dengan sistem nitip kue di beberapa pedangan kue. Di Pekanbaru memang tiap pagi banyak orang jualan kue seribuan pake rak sterling. Nah, aq cobalah nawarin bolu kukus mekar ke tiga tempat. Sehari aku bikin lebih kurang 50 buah. Selama beberapa hari itu kueku seringnya habis, palingan kalo sisa cuma beberapa biji. Yah, secara angka aku untung.

Lalu kalo untung, kenapa aku cuma jualan beberapa hari? Karena pada suatu hari aku ngobrol dengan salah satu kakak pemilik sterling. Dia cerita bahwa dulu waktu dia masih buat kue, sehari dia bikin 200 kue yang dititipin di 10 tempat kue. Dia menganjurkanku supaya melakukan hal yang sama, supaya hasil jualan kuenya terasa. Nah, aku penasaran donk gimana cara dia ngatur waktu bikin kue 200 biji sehari sambil ngurusin anaknya yang berumur 1,5 tahun waktu itu. Mbak itu menjelaskan bahwa dia mulai nyiapin bahan dan sebagainya di siang hari (merendam kacang ijo,dll), mengolah adonan malem (bulet-buletin onde-onde,dsb-nya), menggoreng adonan sebelum subuh, terus lanjut dengan antar kue, dan menjelang siang jemput uang kue ke kedai-kedai. Yang kalo aku itung-itung untuk semua itu bisa mamakan waktu lebih kurang 8 jam sehari.

Mendengar cerita si mbak, di rumah aku membuat analisa. Mbak itu benar juga, kalo cuma bikin 50 kue sehari untung kueku memang tak terasa. Wong satu kue untungnya cuma 300 perak.  tak sebanding apa yang kukorbankan (waktu buat ngobrol dengan suami, waktu main sama Bagas) dengan apa yang kudapatkan. Berarti kalo mau untungnya terasa, aku harus mengikuti saran si mbak. Tapi aku mikir lagi, ‘8 jam sehari’? itu setara dengan jam kerja orang kantoran. Masalahnya, aku berhenti bekerja karena ingin menghabiskan waktu dengan Bagas. Masa aku malahan menyibukan diri di dapur? Sama aja boong dong! Kupikir lagi, daripada eike ngabisin waktu 8 jam sehari buat ngurusin kue, mending sekalian balik kerja aja, hasilnya jelas lebih gede. Aku pun menarik kesimpulan, ‘Nope! its not worth it!’. Dan akupun berhenti berjualan kue.

Meskipun cuma beberapa hari, pengalamanku berjualan itu cukup memberikan beberapa pelajaran dan cahaya kebijaksanaan dimataku (alah!).  Aku menyadari bahwa aku jualan tanpa benar-benar memikirkan dengan matang apa yang aku lakukan. Nah, sebelum memulai berbisnis atau apa pun, ada beberapa hal menurutku penting untuk dipikirkan terlebih dulu.

Apa tujuan kita melakukanya?
Jawab pertanyaan ini dengan sejujurnya. Mengapa kita memutuskan untuk bisnis? Perlu uang untuk biaya hidup? Mencari tambahan untuk kesenangan pribadi? Mencari pengakuan pribadi bahwa meski IRT tetap ‘berdayaguna’? atau latah karena liat keuntungan orang lain gede dengan berbisnis? Apa pun itu, jawab dengan sejujur-jujurnya. Penting untuk mengetahui motivasi kita yang sebenarnya sebelum melakukan sesuatu, supaya kita nggak menghabiskan waktu pada sesuatu yang tanpa kita sadari nggak jelas apa tujuanya.

Seberapa penting tujuan itu dalam hidup kita?
Setelah pertanyaan pertama terjawab, sekarang kita harus melihat posisi tujuan kita berbisnis dalam hidup kita. Seberapa penting ia? Ada di posisi berapa ia dalam prioritas hidup kita? Bagi yang berbisnis karena butuh uang, berbisnis tentu berada di urutan pertama. Tapi bagi yang sekedar mencari tambahan atau ‘kepuasan pribadi’, berbisnis harusnya berada di salah satu urutan terbawah. Menyadari tingkat urgensi atas apa yang kita lakukan itu penting. Karena jika kita tidak memanage-nya dengan baik, bisa-bisa apa yang penting terlalaikan karena apa yang kurang penting. Dan lagi, menyadari seberapa besar nilai suatu aktivitas yang kita pilih, juga mempengaruhi seberapa besar hal itu idealnya mengambil porsi di kepala kita. Jangan sampai kita uring-uringan karena memikirkan bisnis sampingan di saat kita seharusnya asik dengan anak. 

Intinya, penting untuk diingat ‘what matters most’ di hidup kita sebelum memutuskan untuk memulai apapun. Karena apapun pilihan yang kita ambil, selalu ada konsekuensi yang menyertai di belakangnya. 


sumber : thoughtcatalog.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar