Jumat, 22 April 2016

Ibuku Bukan Kartini



Tanggal 21 kemarin, kita merayakan hari Kartini. Satu hari yang biasanya diramaikan dengan kebaya dan diidentikan dengan harinya kaum wanita. Pada dasarnya aku tak memusingkan hari ini, hingga aku tak sengaja membaca sebuah pernyataan, yang membuat aku berpikir mengenai pemahaman konsep dibalik hari Kartini ini. Bahwa Hari Kartini diidentikan dengan emansipasi dan bahwa berkat Kartini, wanita bisa menjadi ‘lebih’ dari ‘sekedar’ urusan rumah tangga dan anak. Hm, sebelum aku mengemukakan pendapat mengenai konsep tersebut, aku rasa perlu untuk mencaritahu terlebih dahulu siapa sebenarnya Kartini dan apa sebenarnya peran beliau bagi kaum wanita. 

Kartini merupakan keturunan priyayi yang memperoleh pendidikan di Europese Lagere School hingga beliau berusia 12 tahun. Namun setelah itu, kebebasan Kartini memperoleh pelajaran dicabut karena beliau memasuki masa pingitan. Pada fase ini, berkat kemampuanya berbahasa Belanda, Kartini berkorespondensi dengan beberapa orang warga Belanda. Melalui proses inilah Kartini memperoleh berbagai pengetahuan mengenai kebudayaan Eropa dan memperoleh buku humanisme seputar nilai perempuan dari Ny Abendon (humanis berdarah Yahudi) seperti Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens. Tentu saja proses ini membentuk pola pikir Kartini, sehingga beliau merasa bahwa kondisi kaum wanita pribumi tertinggal dan berada pada status sosial yang rendah. Kartini menginginkan kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum terhadap kaum wanita. Kartini berpendapat bahwa wanita Indonesia juga berhak memperoleh pendidikan seperti kaum lelaki. Setelah menikah, beliau pun mendirikan sekolah bagi kaum wanita yang mengajarkan pengetahuan serta keterampilan.

Aku mengakui, apa yang diupayakan Kartini bermanfaat bagi wanita, dimana beliau mengupayakan pendidikan yang sebelumnya tidak dianggap perlu bagi kaum wanita. Namun sayangnya, upaya yang dilakukan oleh Kartini dianggap sebagai hasil pencerahan dari inspirasi pemikiran barat yang modern dan terbuka serta dikaitkan dengan konsep emansipasi. Yang pada akhirnya menimbulkan pergeseran konsep mengenai wanita yang sukses atau berpikiran maju. Bahwa sukses itu perkara di luar urusan domestik, bahwa menjadi ibu dan istri itu bukanlah sesuatu yang ‘wah’ atau ‘besar’. Coba saja tanya pada seseorang, siapa tokoh wanita yang dianggap sukses? Pastinya mereka adalah nama-nama yang memiliki peran yang jauh lebih besar dari ‘sekedar’ ibu dan anak.

Pertanyaanya, apa benar wanita itu sukses dan dikatakan ‘besar’ jika ia melakukan hal yang lebih dari sekedar ranah domestik? Jika begitu, coba pikir lagi, apa yang menjadikan Ummul Mukminin (ibunya orang yang beriman) Khadijah Radiallahu anha adalah salah satu wanita termulia yang pernah ada di muka bumi? Apakah karena kehebatanya berbisnis? Apakah karena kekayaan beliau? Tidak, Khadijah Radiallahu anha mulia karena menjadi istri shaleh yang senantiasa menjadi penyejuk bagi Rasulullah Sallallahu Alahi Wasallam. 



Tentu saja, konsep sukses adalah perkara yang relatif bagi tiap individu, tergantung dari prioritas hidup masing-masing. Lalu, apakah upaya Kartini untuk memberi pendidikan bagi warga pribumi memang ditujukan untuk emansipasi? Untuk menjadi ‘sukses’ dalam arti mengecilkan perkara domestik? 

Masa ‘Terbitlah Terang’ nya Seorang Kartini:

Selasa, 19 April 2016

Pizza Gulung Kacang



pizza gulung kacang

Resep kali ini kuambil dari klipingan resep lama punya mamaku, jadi aku nggak tau pasti resep ini dari majalah atau tabloid apa. Aku nyoba resep ini gegara minggu lalu aku nyobain croissantnya hypermart (sebenarnya bukan croissant beneran sih, bentuknya aja dimirp-miripin), jadilah aku kepingin makan lagi sebanyak-banyaknya. Berhubung aku nggak punya bahan buat bikin croissant, kupikir bikin roti mini jadilah.. hehe.. Jauh ya dari croissant jadi roti mini? Yah, menjelang aku memperoleh korsvet dan belajar bikin croissant sendiri (yang aku yakin nggak gampang buatnya), marilah menyimak resep pizza gulung kacang berikut:

Bahan kulit:
·         Terigu protein tinggi 300gr
·         Ragi 1 sdt (3 gr)
·         Gula 25 gr
·         Santan 190 ml (aku ganti dengan susu)
·         Minyak goreng 1 sdm (aku ganti dengan margarin yang dilelehkan)
·         Garam ½ sdt
Bahan Saus:
·         Santan 200 ml (aku ganti susu)
·         Gula merah disisir halus 50 gr
·         Daun pandan 1 lbr
·         Garam ¼ sdt
·         Larutan 1 ½ sdm maizena dengan 1 ½ sdm air
Bahan Taburan:
·         Kacang tanah sangrai dicincang kasar 100 gr
·         Gula pasir kasar 40 gr
·         1 Kuning telur dikocok lepas , aduk rata dengan 2 sdm susu cair.

Jumat, 15 April 2016

Resep Kue Serba Keju

Sudah lama rasanya aku nggak posting tentang resep kue. Sebenernya aku masih konsisten bikin kue kok, cuma aku sering kelupaan motret  hasil kue buatanku. Soalnya bikin kuenya sore atau malem sih, kan pencahayaanya bikin males banget buat foto. Nah, aku kembali mencoba konsisten untuk upload tiap resep kue yang udah aku cobain. Kali ini aku langsung ngeshare 3 resep sekaligus kue yang mengandung keju, soalnya males bikin 3 posting terpisah..hoho..Ya, entah mengapa akhir-akhir ini aku lagi ngiler tiap ngeliat resep kue yang mengandung keju, mungkin bawaan bayi kali ya? (bayi apaan? Bayi kucing? jangan bikin rumor deh..)

Oke, tanpa memperpanjang cerita ini dia tiga kue yang aku buat sebulan terakhir:

1.Donat Tape Keju (sumber:tabloit saji)

Donat Tape Keju

Ini donat terlembut yang pernah aku buat. Nggak tau karena bahanya atau karena aku benar-benar mengikuti resep untuk mendiamkan adonan sampai 3 kali, biasanya aku cuma diamin adonan 30 menit, terus langsung digoreng karena nggak sabar..hoho..

Bahan :
·         Terigu 400 gram
·         Tape singkong, haluskan 150 gram
·         Gula pasir 25 gr
·         Ragi instan 12 bungkus
·         Baking powder ½ sdt
·         Telur 1 butir
·         Air es 150 ml
·         Garam 1/8 sdt
·         Margarin 65 gr
·         Minyak untuk menggoreng
Topping: buttercream (aku ganti margarin aja) dan keju cheddar parut 100 gr
Cara:
1.       Ayak terigu dan baking powder. Tambahkan ragi dan gula pasir. Masukan tape. Aduk rata
2.       Masukan telur dan air es sedikit-sedikit sambil diuleni sampai kalis
3.       Tambahkan margarin dan garam. Uleni sampai elastis.
4.       Diamkan adonan 30 menit. Kempiskan adonan lalu timbang masing-masing 30 gram. Bulatkan. Diamkan 10 menit.
5.       Ambil 1 adonan. Pipihkan. Bolongkan tengahnya, diamkan 30 menit.
6.       Goreng, dinginkan, beri topping.

2. Roti keju toping kopi (sumber:tabloit saji)

Roti keju toping kopi

Senin, 11 April 2016

Keuntungan Anak Tidak Mendengarkan Musik

Salah satu hal yang tak pernah aku ajarkan pada Bagas adalah musik dan nyanyian. Ya, sebagai ibu, aku tak pernah mengajak anaku bernyanyi atau mengajarkan dia nyanyian. Handphone suamiku tak ada musik (hp ku nggak bisa mutar musik) dan di rumah kami tak pernah menyalakan televisi (bukan anti tv,karena nggak punya antena aja,haha..). Di handphone suamiku hanya ada murottal dan ceramah agama. Otomatis, Bagas tak punya akses terhadap musik dan tak punya pilihan lain selain mendengar apa yang tersedia.

Aku bukan pembenci musik, dulu setiap hari aku mutar musik. Hingga ketika aku menikah dengan suamiku, mengikuti pengajian sunnah dan mengetahui dengan benar hukum musik dalam Agama Islam. Sejak itu, aku tak memutar musik lagi. Berikut salah satu dalil yang mengharamkan musik, seperti yang kukutip dari rumaysho.com

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS. Luqman: 6-7)

Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu– berkata, Yang dimaksud  (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali.

Jika ada yang mengatakan, “Penjelasan tadi kan hanya penafsiran sahabat, bagaimana mungkin bisa jadi hujjah (dalil)?”
 
Maka, cukup kami katakan bahwa tafsiran sahabat terhadap suatu ayat bisa menjadi hujjah. Ibnul Qayyim mengatakan, “Walaupun itu adalah penafsiran sahabat, tetap penafsiran mereka lebih didahulukan daripada penafsiran orang-orang sesudahnya. Alasannya, mereka adalah umat yang paling mengerti tentang maksud dari ayat yang diturunkan oleh Allah karena Al Qur’an turun di masa mereka hidup”.

Lalu bagaiman dengan penelitian para ahli yang menunjukan manfaat musik bagi anak-anak? Aku tak menampiknya, aku percaya musik memiliki sedikit manfaat. Tapi  manfaatnya tak sebanding dengan mudharatnya. Perlu diingat bahwa adalah wajib bagi seorang muslim untuk beriman ketika dalil sudah datang padanya. Dan apakah aku berani menyandingkan dalil dengan perkataan entah siapa? Berikut aku kutip pernyataan Ibnul Qayyim

“Firman Allah dan sabda Rasul Nya itulah ilmu. Juga perkataan para sahabat, mereka ahli ilmu. Bukanlah ilmu jika secara bodoh kamu melawankan antara sabda Rasul dengan perkataan seorang fulan”

Mungkin akan ada yang berpikir bahwa, anaku kasihan karena tak bisa bersenang-senang seperti anak kebanyakan, dan bahwa musik membuat hidup lebih berwarna.Menurutku pendapat itu terasa berlebihan. Bersenang-senang tidak hanya dilakukan dengan musik. Dan jika seorang muslim berkata bahwa musiklah yang membuatnya tenang dan bahagia, aku ingatkan kembali ayat berikut: 

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’du: 28)

Lalu apa keuntungan yang kuperoleh dari tak pernahnya Bagas mendengarkan musik? Pertama, karena dia tak punya akses ke musik, ketika ia megang HP abinya mau nggak mau dia mendengarkan murottal. Kedua, karena dia cuma tau murottal dan adzan, maka ketika dia ingin bersenandung maka yang dia senandungkan adalah adzan dan murottal. Ketiga, karena dia cendrung lebih sering dengar murottal, mau nggak mau dia hapalnya surat Al Quran, lebih tepatnya Al-Fatihah. Memang belum lancar dari ta’awudz sampai amin sih, tapi dia sudah bisa menyambung kalau aku pancing dengan kata-kata awal. Not bad lah.. Bukankah bagi seorang muslim lebih bermanfaat surat Al Fatihah dibandingkan ‘balonku ada lima’?

Memang sih, aku tak bisa selamanya menutup akses Bagas dari musik. Zaman sekarang, musik diputar dimana-mana, mesjid aja mutar musik ‘islami’ kok. Tapi paling tidak, bukan aku yang memperkenalkan musik pada anaku. Mengapa itu penting? karena kita bertanggungjawab terhadap tanggungan kita. Ketika mengajarkan yang baik, kita mendapatkan balasan, ketika mengajarkan yang buruk pun kita mendapat balasan.

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,
"Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123). (dikutip dari muslim.or.id)
 
 ODOPfor99days #day22