Senin, 28 Maret 2016

Obat Demam Alami Anak



Kurang lebih sebulan yang lalu Bagas mendadak demam tinggi. Sabtu malam suhunya mecapai 39,5 derajat Celcius. Sebenarnya, kalau ke dokter anak, jika demamnya segitu biasanya langsung dikasih obat yang dimasukan melalui anus. Tapi berhubung stock obat di rumah udah lama, aku nggak berani kasih. Akhirnya, Bagas kukasih penurun demam biasa dan kukompres.

Hari Minggu pagi, demam Bagas belum berkurang. Aku dan suami agak khawatir karena kondisi Bagas lemas, padahal biasanya walaupun demam dia tetap semangat main. Sebenarnya kami pingin bawa dia ke dokter, tapi berhubung hari Minggu, dokter langganan nggak praktek. Akhirnya, kami memutuskan untuk menunggu sampai siang untuk melihat perkembangan kondisi demamnya. 

Untungnya di rumah ada buku ‘1001 Resep Obat Asli Indonesia’ karangan sinshe Abu Muhammad Faris Al Qiyanji. Buku ini berisi berbagai resep obat tradisional untuk berbagai penyakit, mulai dari yang ringan seperti batuk hingga yang berat seperti pembengkakan hati. Untuk demam sendiri, resepnya bermacam-macam. Aku memilih mencoba 3 saran, yaitu memberi perasan wortel, memberi makan buah semangka yang banyak, dan mengoleskan campuran bawang dan minyak ke seluruh tubuh Bagas. Disamping itu aku juga memberi obat demam anak(sanmol) secara berkala. 

Alhamdulillah, sorenya demam Bagas turun, dan menjelang Maghrib ia sudah bisa dikatakan sembuh. Aku nggak tau apa penyebab demam dadakan bagas, tapi qadarullah gabungan dari obat-obatan alami itu cukup manjur. Nah, berikut resep dari buku ‘1001 Resep Obat Asli Indonesia’ yang aku cobain ke Bagas : 

Sabtu, 26 Maret 2016

Dunia IRT sempit? Perasaan Lo Aja Kali...



Salah satu stigma yang menurutku kurang tepat adalah bagaimana ibu rumah tangga sering dipandang sebagai kelas kedua dibandingkan para wanita yang bekerja. Seakan-akan IRT memiliki dunia yang sempit dan tertinggal di belakang. Nggak sedikit deh aku baca atau dengar komentar seperti, ‘sayang, taunya urusan rumah tangga aja’, atau ‘nggak berkembang karena sekarang sibuk ngurusin anak doank’, ‘di rumah ngapain aja sih? Enak donk tidur-tidur’ dan kalimat-kalimat lain dengan nada sejenis. Salah satu pengalaman nyata lainya adalah ketika ibuku ditanya oleh pegawai pustaka wilayah apa pekerjaanya, kemudian mereka tak percaya ketika ibuku menjawab bahwa beliau  ‘Cuma’ IRT (mereka mengira ibuku guru), karena tiap minggu rutin pinjam buku ke sana. Kalimat-kalimat itu, pada dasarnya bermuara pada pola pikir yang sama: IRT tidak diapresiasi sebagai pekerjaan produktif dan miskin ‘development’. 

Apa benar begitu? Pertanyaan dan pernyataan usil mengenai IRT ini, membuatku ingin balik mengkritisi dan bertanya :

Lalu kenapa kalau taunya urusan rumah tangga saja?

 Jika memang seseorang taunya urusan rumah tangga saja, lalu kenapa? Apakah artinya pengetahuan seputar rumah tangga itu useless? Jika begitu, lalu bagaimana dengan Martha Stewart ? Bukankah  Martha Stewart justru terkenal karena pengetahuanya di ranah domestik? Martha Stewart merupakan pakar dibidang masak-memasak, bersih-bersih, menata barang-barang, berkebun, menjahit, dan segala tetek-bengek rumah tangga ‘banget’  lainya.  Tapi toh justru pengetahuanya itu yang mengantarkanya hingga memiliki acara tv dan majalah yang populer hingga sekarang. Jadi siapa bilang pengetahuan seputar rumah tangga itu pantas untuk diembel-embeli dengan ‘Cuma’ atau ‘doank’?

IRT pengetahuanya sempit? Ah masa?

Sabtu, 19 Maret 2016

Yang Dibutuhkan Penulis



Belum lama ini aku menamatkan buku My Life as A Writer karya Haqi Achmad dan Ribka Anastasia Setiawan. Aku belinya cuma Rp 10.000 di acara diskon Gramedia, dan ternyata isinya lumayan bermanfaat. Buku ini berisi wawancara dengan penulis yang sudah menerbitkan buku, yaitu : Alanda Kariza, Farida, Vabyo, Clara Ng, dan Dewi Lestari (sebenarnya sih aku cuma tau 2 yang terakhir aja, hehe..). Dari buku ini , ada beberapa pelajaran yang bisa aku petik mengenai cara menjadi penulis yang baik. 

sumber:ribka-anastasia.blogspot.com

Sabtu, 12 Maret 2016

Dibalik Marah



Mengurus anak bukanlah hal yang mudah. Mendidiknya apa lagi. Rasanya, setiap hari seorang ibu harus terus berhadapan dengan kondisi yang mengharuskan untuk dilakukan pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Keputusan yang terkadang memiliki efek sepele tapi juga tak jarang memiliki efek jangka panjang (seperti melukai perasaan  anak). 

Setiap ibu pasti sering dilema dalam mengambil keputusan untuk marah atau tidak, bersikap tegas atau longgar, menuruti keinginan anak atau menolak, dan sebaginya-dan sebagainya. Tak pernah ada jawaban yang benar tentang hal itu, bukan? Setiap situasi memiliki jawaban yang berbeda. Dan sebanyak apapun artikel parenting telah kita baca, pada akhirnya intuisi lebih sering digunakan daripada teori para pakar. 

Salah satu dilema yang paling sering kualami adalah dilema untuk memarahi anak atau tidak. Pernah dengar pernyataan yang mengatakan bahwa membentak anak bisa merusak sel-sel otaknya? Ada yang berhasil untuk tak pernah membentak anak sama sekali sepanjang proses mengurus anak? Mungkin ada, tapi sebagai ibu yang kurang sabaran, mengalami PMS dan kelelahan seperiku, tidak pernah membentak anak adalah hal yang mustahil rasanya. Belum lagi perasaan dilema seperti ,’entar kalau nggak pernah dibentak, ini anak tumbuh tanpa perasaan segan kepadaku dan terbiasa bersikap seenaknya’. 

Apakah pola pikirku benar? Apakah sebagai orangtua yang juga ingin menjadi sahabat si anak berarti kita tak boleh memarahinya? Atau kita boleh marah tapi tanpa membentak? Bagaimana pula caranya itu? Kalau dipikir-pikir lagi, bukankah kita boleh memukul anak jika ia berumur 10 tahun yang tidak mau sholat? Apakah itu artinya kita boleh memarahi anak dengan cukup keras setelah ia berumur cukup besar?

Minggu, 06 Maret 2016

Takut



Kemaren aku mengalami ketakutan yg dalam yang belum pernah kualami sebelumnya. Jadi, pagi hari pukul 7, aku berencana berbelanja ke pasar. Di jalan aku dijambret. Aku tak ingat persis kejadianya dan bagaimana aku jatuh, kata ibu-ibu yang menolongku, aku terguling-guling. Yang jelas kepalaku benjol (padahal aku pakai helm) dan penglihatanku terganggu dan tak dapat fokus. 

Setelah suamiku datang, aku dibawa ke rumah sakit. Kata dokter, mereka harus melakukan observasi selama 1 jam setengah untuk memastikan benturan di kepalaku hanya terjadi di luar tengkorak. Jadi, aku bertanya pada dokter itu apa yang menjadi indikasi ada benturan yang berbahaya. Pada titik ini jika aku menggerakan kepala terlalu banyak, semua hal di sekelilingku berputar-putar kencang. Dokter itu menjawab bahwa jika ada pendarahan di dalam tengkorak, biasanya pasien akan muntah kemudian dengan cepat kehilangan kesadaranya. Jika sudah begitu ia akan koma. Hah?! Serem amat? Padahal saat itu perutku sudah mual dan aku tau aku ingin muntah.

Aku langsung berpikir banyak. Bagaimana jika dalam waktu dekat malaikat maut mendatangiku, dan  mencabut nyawaku? Aku bukanlah ahli ibadah, bukanlah seorang istri dan ibu yang baik, bukanlah seorang anak yang berbakti, bukanlah tetangga dan teman yang menyenangkan. Lalu darimana peluangku masuk ke dalam surga? Aku ingat betul mengenai hadist tentang hal yang akan dialami oleh pembuat maksiat setelah nyawanya dicabut dari jasadnya. Bagaimana jika nyawaku di bawa kelangit dalam kondisi sangat busuk kemudian  malaikat tak mau membukakan pintu langit dan nyawaku dihempaskan kembali ke jasadku begitu saja? Bagaimana jika aku tak dapat menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur? Bagaimana jika di dalam kubur aku ditemani makhluk yang sangat buruk yang merupakan hasil amal buruku? Bagaimana jika aku didatangi makhluk, yang rasa belas kasih telah dicabut dari dadanya, membawa palu godam besar, untuk memecahkan kepalaku terus menerus hingga hari kiamat kelak? Ya Allah aku takut.