Rabu, 27 Januari 2016

Dont Judge A Book By Its Price!



Salah satu cara keluargaku refreshing adalah dengan mengunjungi toko buku. Di situ, aq bisa numpang baca dikit-dikit (jadi nggak beli?) dan Bagas bebas bolak-balik liat ini-itu, tanpa kami terlalu khawatir dia bakal ngerusakin barang. Nah, belum lama ini kami mengunjungi toko buku dan aqmenemukan sesuatu yang menarik. Ehem!

Pada dasarnya setelah menikah, aq jadi lebih jarang beli buku. Pertama karena waktu membaca yang jauh berkurang dan karena harga buku sekarang muahal rek. Dan lagi aq sudah mengurangi membaca fiksi, kecuali pengarang-pengarang fiksi favoritku seperti Sophie Kinsella dan Meg Cabot. 



Selasa, 26 Januari 2016

Maulidan



Belum lama ini, mushola dekat rumahku mengadakan acara Maulid Nabi. Aq nggak datang, karena aq tidak merayakan Maulid Nabi, selain itu aq juga nggak tau bahwa hari itu ada maulidan (eh!). Iya, aku mengikuti pendapat kelompok yang ‘memecah belah’ umat itu. Terserah (sayur) lodeh mau bilang apa. Tapi aq mau menjelaskan sedikit mengapa aq tak maulidan:
  1. Perayaan Maulid tidak dikerjakan oleh para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal kecintaan mereka pada Nabi sangatlah besar, mereka rela menjadikan leher mereka sebagai pelindung leher Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Begitu juga imam 4 madzhab (Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam As-Syafi'i, dan Al-Imam Ahmad) , sama sekali tidak diriwayatkan bahwa mereka merayakan maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
  2. Kegiatan maulid nabi terkadang dibarengi dengan kemungkaran-kemungkaran seperti, ikhtilat (bercampurnya) lelaki dan wanita dan lagu kasidahan yang disenandungkan oleh suara wanita disertai musik.
  3.  Bahkan qosidah itu mengandung pujian yang berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti qosidah Burdah karya Al-Bushiri : Sesungguhnya diantara kedermawananmu adalah dunia dan akhirat dan diantara ilmumu adalah ilmu lauhil mahfuz dan yang telah dicatat oleh pena (yang mencatat di lauhil mahfuz apa yang akan terjadi hingga hari kiamat) . Hal ini jelas merupakan kesyirikan dan menyamakan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan  Allah. Karena hanya Allah lah yang mengetahui ilmu lauhil mahfuz, pengucap syair ini telah mengangkat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga pada derajat ketuhanan dan ini merupakan kekufuran yang nyata.
  4. Acara perayaan kelahiran Nabi pada hakekatnya tasyabbuh (meniru-niru) perayaan hari kelahiran Nabi Isa yang dilakukan oleh kaum Nashrani. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut".
  5. Bukankah sunnah-sunnah dan ibadah-ibadah yang jelas-jelas datang dari Nabi sangatlah banyak? Dan bukankah salah seorang dari kita tidak akan mampu untuk melaksanakan seluruh ibadah-ibadah tersebut?Lantas mengapa kita harus bersusah payah untuk memunculkan model-model ibadah yang baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya?
Begitulah sedikit alasan mengapa  aq tidak maulidan. Tapi, berhubung rumah aq deket dengan mushola, mau nggak mau terdengarlah apa yang diucapkan ustadz pada hari itu. Berikut kurang lebih pembuka ceramah beliau:

Sabtu, 23 Januari 2016

Mestakung?



“setelah berusaha dengan sungguh-sungguh, eh urusan A dimudahkan, wah mestakung nih!”

“pas butuh, pas dapet, mestakung banget dah!”

‘Mestakung’, kata yang cukup populer untuk menunjukan sebuah kondisi dimana masalah kita telah dimudahkan atau bahkan diselesaikan. Singkatan dari Semesta Mendukung. Ada yang belum paham konsep semesta mendukung? Intinya, itu adalah sebuah konsep dimana ketika seseorang menginginkan sesuatu dan berusaha secara bersungguh-sungguh, maka semesta akan bekerja untuk membantu orang itu meraih tujuanya. Atau kalau menurut situs AndrieWongso:



Super kan? 

Selasa, 19 Januari 2016

Sedikit Mengenai Menulis



Belum lama ini aq membaca sebuah tulisan di Kompasiana mengenai lomba menulis yang tidak memiliki pemenang. Aq bisa memahami kekesalan penulisnya, sudah menulis dengan sungguh-sungguh eh penyelenggara lomba dengan seenaknya mengatakan tidak ada pemenang. Aq tersenyum membayangkan reaksi suamiku jika aq menceritakan artikel ini padanya. Kurasa dia akan berkomentar kurang lebih ‘tuh kan apa abang bilang’.

Aq sempat menjadi kontes menulis hunter. Pokoknya apapun temanya (selama tidak bertentangan dengan prinsip hidup dan agama tentu), asal hadiahnya lumayan pasti aq semangat ikut. Bahkan bisa dibilang sebagian besar tulisanku adalah tulisan untuk lomba melulu. 

Dan kegiatan ini tak terlalu disukai suamiku. Hal ini sering menjadi ajang diskusi-debat kami. Menurutnya, lomba adalah kegiatan ‘bodoh-bodoh’. Karena pemenangnya Cuma sekitar 3-5 orang dari ratusan hingga ribuan peserta (malahan aku pernah ikut kontes kelas dunia yang pesertanya ratusan ribu). Menurutnya penyelenggara lomba selalu mendapat kentungan berkali-kali lipat dibanding hadiah yang dikeluarkanya untuk para pemenang. Peserta yang sebanyak itu hanya dimanfaat oleh penyelenggara lomba.Well, mungkin dia benar, tapi kan pemenangnya dapet hadiah lumayan kan?

Lalu dia akan membantah lagi dengan bilang bahwa menang lomba bukan tujuan seorang penulis. Katanya menulis itu seharusnya memberikan kepuasan dihati penulisnya ketika menuliskanya maupun membacanya kembali suatu hari nanti. Dan dia nggak yakin aq akan happy membaca artikel-artikel lombaku lagi, 2-3 tahun mendatang. Hm, kali ini dia juga benar pikirku sambil melirik artikelku mengenai review gadget keluaran terbaru.

Tapi aq masih berkilah, bahwa dengan ikut lomba menulis, aq bisa berlatih menulis dengan baik dengan cara mempelajari tulisan pemenang. Dia membantah lagi dengan bilang, bahwa lomba tidak bisa dijadikan ajang belajar, karena penilaianya yang tak jelas tergantung dari kriteria yang ditentukan oleh masing-masing juri. Dan seringnya juri tidak memberi keterangan mengenai alasan mengapa sebuah tulisan menang, sehingga sulit untuk menentukan standar artikel yang baik berdasarkan lomba. 

Nah, kali ini aq kehabisan jawaban, eh si abang masih ada bantahan lagi mengapa dia nggak suka dengan lomba. Dan alasan yang terakhir ini mungkin paling menohok. Dia bilang,”karena artikel yang ditulis untuk lomba biasanya (nggak semuanya loh ya) nggak punya jiwa, nggak ada penghayatan disana, lah wong temanya aja ditentukan juri kok”. 

Aq merenung. Kurasa mas benar. Aq sudah ikut puluhan lomba, tak ada satupun yang menang. Akupun tak tau apakah kemampuan menulisku telah mengalami peningkatan atau belum. Dan aq setuju soal tulisan ‘tanpa jiwa’ yang dimaksudkanya. Mana mungkin aq menulis dengan semangat soal perumahan yang belum pernah kulihat kan? dan lagi tulisan lomba biasanya penuh dengan ‘sugar coating’ untuk sponsor. 


sumber : buzzfeed.com

Sabtu, 16 Januari 2016

Main Sama Bagas Batch 1

Sesuai komitmenku di 2016 ini untuk bermain dengan serius sama Bagas, aq mulai membuat berbagai mainan untuknya beberapa hari terakhir ini. menurut situs-situs tempat aq mencontek ide, beberapa permainan tersebut membantu perkembangan anak dibidang ini dan itu. aq nggak terlalu peduli dengan manfaatnyasih, menurut aq yang penting aq dan Bagas merasa asik dengan permainan itu. apalagi aq cukup sering membaca kebanyakan manfaat permainan itu melatih motorik halus, yang aq sebenernya kurang paham apa yang dimaksud motorik halus, dan kenapa penting banget kayaknya itu motorik dilatih-latih mulu. Haha..

Oke, berikut beberapa permainan yang bisa aq ingat, dan bagaimana reaksi Bagas dengan permainan-permainan itu. sebagian permainan dia mainkan dengan antusias, sebagian rada males-malesan. Sayangnya nggak semua permainan aq foto, agak ribet soalnya.

1.       Memasukan karet ke botol
Ini permainan simple banget, cukup sediakan berbagai karet gelang dan sebuah botol. Lalu contohkan pada anak untuk memasukan karet tersebut kebadan botol. Bagas agak repot merenggangkan karet, jadi botolnya nggak dia pegang. Hasilnya itu botol tumbang terus, akhirnya Bagas rada males masukin karetnya. Emaknya juga rada ngantuk waktu mainin permainan ini, jadi permainan ini tak terlalu menarik bagi kami.

2.       Meronce
Aq menggunakan tali dan pipet dengan diameter besar yang kugunting-gunting. Permainan ini sepertinya sudah cukup familiar ya, tinggal mencontohkan pada anak untuk memasukan pipet ke tali satu demi satu sehingga menjadi semacam rangkaian. Awalnya Bagas gagal memasukan pipetnya karena dia salah cara memegang talinya. Jadi begitu  pipetnya masuk, keluar-keluar lagi deh. setelah aq contohkan, dia bisa juga memasukan beberapa pipet. Tapi Bagas nggak terlalu suka dengan permainan ini. dia nggak terlalu antusias memasukan pipet-pipetnya sampai selesai. Agaknya permainan yang membutuhkan ketelatenan bukan jenis permainan yang disukai Bagas.

3.       Bermain gunting
Aq pake guntung khusus anak-anak produk mapped. Kebetulan lagi diskon di Giant, hoho... lalu aq tinggal sediain majalah bekas, terus ajak Bagas gunting-gunting deh. bagas suka dengan permainan ini, karena emang udah lama dia penasaran dengan gunting emaknya, tapi nggak pernah dikasih. Permainan ini memadukan 2 hal yang disukai Bagas, merusak barang dan menggunakan gunting seperti orang besar jadi dia cukup antusias dengan permainan ini

4.       Bermain palydough
Aq menggunakan adonan buatan sendiri, yang resepnya : 140 gram tepung + 250gram garam + 120ml air. Hasilnya cukup memuaskan, adonan sedikit terasa berminyak, tapi gampang dibentuk. Yang jelas, kalo adonanya nggak sengaja kemakan sama si Bagas, nggak berbahaya. Aq nggak kasih pewarna makanan, soalnya males entar lengket-lengket ditangan. Lagian ini kan baru percobaan pertama, liat dulu gimana reaksi si Bagas. 

tampilan adonanku


Hasilnya, dia cukup suka mengikutiku membentuk adonan menjadi berbagai bentuk seperti bulan purnama, bulan sabit, donat, dsb. Kemudian adonan yang berbentuk bola dia lempar-lempar ke atas. Aq kira, Bagas nggak terlalu antusias membentuk adonan, tapi waktu anak tetangga main ke rumah dan memainkan adonan dengan cara memadatkan adonanya ke cup es krim, eh si Bagas tertarik. Dia bisa asik sendiri cukup lama Cuma dengan memasukan dan menuangkan adonan ke cup es krim. Berartinya ummynya yang kurang jago ngasih contoh nih. Cuma ada satu yang kurang oke dari permainan ini, lantai rumah jadi rada lengket berminyak gitu. Terpaksa ngepel deh eike.. 

serius banget :)


5.       Berkebun
Alias mengaduk aduk tanah di pot dan menyiram bunga. Bagas sangat antusias dengan permainan ini, saking seriusnya dia sampai nggak ngomong apa-apa pas maininya. Hasilnya, baju kotor dan basah, tapi nggak apa2 lah, nggak repot nyediain ini itu ummynya. Hohoho..

#‎ODOPfor99days‬ #day7



  

Jumat, 15 Januari 2016

'Jaminan' yang Masih Harus Dijaminkan



Apa hal paling menakutkan di dunia ini bagi anda? Jika saya mengatakan bahwa salah satu hal yang paling menakutkan adalah ketidakpastian akan kejadian di masa depan, saya yakin cukup banyak orang yang setuju. Kecelakaan, penyakit, bencana, biaya hidup yang melambung, dan sebagainya dan sebagainya. Ketakutan ini semakin meningkat seiring dengan maraknya penawaran ‘penjamin’ masa depan seperti asuransi, tabungan berjangka, dan kredit ini-itu. Produk-produk ini begitu primadona dan populer, sehingga jenisnya terus berkembang dan berkembang menyesuaikan kebutuhan gaya hidup masa kini. Biaya pendidikan semakin mahal? Ikut tabungan pendidikan. Biaya berobat mahal? Ikut asuransi kesehatan. Takut properti terbakar/tertabrak? Ikut asuransi kecelakaan. Takut tulang punggung keluarga meninggal? Ikut asuransi jiwa. Masa tua tak jelas? Ikut tabungan/investasi berjangka. Yup! Produk keuangan itu berusaha menjamin semua kemungkinan terburuk di masa depan.  Bagi yang tak terlalu khawatir dengan bencana dan sebagainya, akan ditakut-takuti dari pintu yang lain lagi. Pernah dengar kalimat, tanah/properti makin tahun makin mahal, harganya naik terus, kalo nggak ambil sekarang rugi, ntar dapatnya tanah paling pelosok-sepelosok-pelosoknya. Dan sebagainya dan sebagainya yang mengesankan bahwa memiliki property itu darurat banget deh pokoknya.

Semakin kesini, saya merasa upaya menakut-nakuti itu semakin gencar dengan kalimat yang semakin beragam. Dan sayangnya, cukup banyak yang termakan dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya bertujuan komersil itu. Tak sedikit saya mendengar kalimat, ‘tau nggak, adek ipar-sepupunya-  temanya-teman  aq, suaminya meninggal padahal usianya masih muda anaknya ada 6 kecil-kecil pula, coba kalo dia ikut asuransi jiwa, kan lumayan.’ Atau kalimat, ‘jaman sekarang kalo nggak kredit, mana bisa beli ini itu’. Pertanyaanya, apakah rejeki Allah sesempit itu? Tapi kalo dibilangin hukum Islam soal asuransi, dan bahaya riba, jadinya debat panjang-pendek nggak karuan. Terus ujung-ujungnya nantangin,’jadi jalan keluarnya gimana?’. Emang yang ngasih rejeki gue dan temen-temen gue ?

Saya meyakini 100% bahwa jika seseorang ditakdirkan memiliki sesuatu (Alpahrd misalnya), maka dia akan memilikinya baik dia membelinya secara kredit atau tidak. Tapi, kalo dia tidak ditakdirkan untuk memilikinya, mau dia kreditan dan selalu punya penghasilan tetap sekalipun, Alphard itu tak akan menjadi miliknya. Ingat, rezeki, umur, dan jodoh telah tertulis dan tinta yang menuliskanya telah kering. Tapi kalimat saya yang barusan sudah begitu klise bagi masyarakat kebanyakan. Karena itu, saya ingin mencantumkan sebuah kisah salah seorang sahabat nabi berikut,

Diriwayatakan dari Imam ‘Ali Radhiallahu 'anhu, bahwa beliau masuk masjid Kufah. Sebelum shalat beliau menitipkan hewan tunggangannya kepada seorang anak laki-laki. Setelah selesai shalat, beliau mengeluarkan uang satu Dinar untuk diberikan ke anak laki-laki itu. Tapi beliau mendapati anak laki-laki itu telah pergi sambil membawa tali pengikat hewan tunggangan yang dititipkan padanya. Lalu Imam ‘Ali Radhiallahu 'anhu menyuruh seseorang  untuk membeli tali pengikat hewan tunggangannya dengan harga satu Dinar. Laki-laki itu melakukannya dan kembali sambil membawa tali pengikat hewan tunggangan untuk beliau. Ketika itu Ali berkata, “Mahasuci Allah. Itu adalah tali pengikat hewan tungganganku.” Laki-laki itu berkata, “Aku membelinya dari anak itu satu Dinar.” Imam ‘Ali berkata, “Mahasuci Allah. Aku hendak memberinya rezeki halal tapi ia tidak mau dan memilih mengambil yang haram!”

Ah, tapikan nggak ada salahnya menyiapkan masa depan? Mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk kan perlu juga! Mungkin begitu komentar sebagian orang. Dan saya setuju dengan statement tersebut. Tapi coba perhatikan dimana kita meletakan rasa aman kita. Seperti yang saya katakan sebelumnya, jika harta/jaminan itu tidak ditakdirkan menjadi milik anda, maka semua itu akan hilang. Tak percaya? Baik, mari saya ingatkan kejadian tahun 1997 dan 1999, ketika bank-bank di Indonesia -yang menurut orang awam bonafid- dilikuidasi.  Berapa banyak nasabah yang kehilangan uangnya karena tabunganya tidak termasuk kelompok yang dijamin oleh LPS? Belum lagi yang simpananya berupa investasi, sehingga tidak ditanggung sama sekali oleh LPS? Berikut satu contoh kasus yang saya kutip dari tempo,

Sebaliknya dengan Hok Seng, 45 tahun, pengusaha retail yang menyimpan sejumlah Rp 400 juta di BHS. Menurutnya ia memang apes, pasalnya sejak dua minggu lalu ia sudah berniat memindahkan uangnya ke Bank Bira. Hanya batal, karena petugas polisi yang dimintanya untuk mengawal uang terlambat tiba, sehingga kasir terlanjur tutup. Lantas ketika depositonya jatuh tempo pada 25 Oktober lalu, Hok Seng tidak dapat mengambilnya, karena saat itu hari Sabtu, dan kas tutup. Hok Seng mulai merasa curiga ketika ia berniat mengambil uangnya, Senin (27/10), pihak BHS Bank berniat memotong uangnya sebesar 25 persen.

Dan ada satu konsep yang harus diingat soal jaminan-jaminan ini, bahwa jaminan itu perlu dijaminkan lagi supaya terjamin. Haha.. Maksudnya? Begini, anggaplah anda mengikuti simpanan berjangka, itu loh yang tiap bulan dibayar teratur tapi nggak boleh ditarik sampai tahun tertentu, kalo ditarik sebelumnya maka tabungan anda akan dipotong sekian persen. Sekarang saya tanya deh,siapa yang bisa menjamin anda selalu memiliki uang untuk menyetor ke simpanan tersebut selama jangka waktu yang ditentukan? Bagaimana jika dari 8 tahun perjalanan anda, anda tiba-tiba tidak memiliki uang di tahun ke dua? Berikut contoh kasusnya di link ini, dimana beliau sudah menabung selama 17 bulan dengan total tabungan 8,5 juta, dan karena tidak sanggup melanjutkan, maka beliau memutuskan untuk menutup akunnya. Dan ternyata tabunganya menguap >90% dan kembali 400ribu saja karena kurang dari 2 tahun. Berarti kesimpulanya supaya anda bisa konsisten untuk membayar ‘jaminan’ hari tua anda, anda perlu jaminan untuk selalu sanggup menyetor bukan? 

Jika begitu, apa yang pasti bisa menjamin kita di dunia ini? Mari saya ingatkan kembali kisah Nabi Sulaiman yang ingin memberi makan seluruh hewan di dunia ini: 
Syeikh Muhammad bin Ahmad bin ‘Iyas pengarang kitab Bada’i al Zuhur fi Waqa’i al Duhur memetik kisah yang dinukilkan Syeikh Abd Rahman bin Salam al Muqri dalam kitab al Aqa’iq, bahwa Nabi Sulaiman alaihissalaam meminta izin kepada Allah untuk memberi makanan kepada semua makhluk untuk sehari saja. Maka, Nabi memerintahkan jin dan manusia membawa semua bahan makanan yang ada di muka bumi yang untuk mengumpulkanya diperlukan waktu hingga sebulan lamanya. Setelah semuanya beres, kesemua makanan ini disajikan. Maka Allah memerintahkan seekor ikan muncul untuk dijamu makanan itu. Kemudian dalam sekali suap ikan tersebut menyantap habis semua hidangan yang disajikan. Ikan itu pun berkata, “Hai Sulaiman, berikan aku makanan lagi, aku masih belum kenyang.” Jawab Nabi Sulaiman alaihissalaam, “Engkau sudah memakan semuanya dan engkau masih belum kenyang?”. Ikan itu menjawab pula, “Ketahuilah, setiap hari aku mendapat 3 kali ganda makanan daripada apa yang telah engkau sediakan hari ini.” 
Allah mampu untuk memberi rezeki pada tiap makhluk di dunia ini, semuanya tanpa terkecuali. Lalu, mengapa kita masih dipenuhi dengan kekhawatiran-kehawatiran?
Sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa tulisan ini sama sekali tidak menentang konsep menabung, saya hanya ingin meningatkan bagaimana mindset kita menghadapi masa depan. Dimana seharusnya kita meletakan perasaan takut kita, pada angan-angan tentang masa depan atau pada kemarahan Rabbnya.










Senin, 11 Januari 2016

Rabiul Tsani 1437 H- Seputar Keluarga Berencana

-1 Rabiul Tsani 1437 H
Dari Ma’qil bin Yasar al-Muzani radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Seorang lelaki pernah datang (menemui) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Sesungguhnya aku mendapatkan seorang perempuan yang memiliki kecantikan dan (berasal dari) keturunan yang terhormat, akan tetapi dia tidak bisa punya anak (mandul), apakah aku (boleh) menikahinya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak (boleh)”, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk kedua kalinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali melarangnya, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk ketiga kalinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan membanggakan (banyaknya jumlah kalian) dihadapan umat-umat lain (pada hari kiamat nanti).” Bagi seorang perempuan yang masih gadis. kesuburan ini diketahui dengan melihat keadaan keluarga (ibu dan saudara perempuan) atau kerabatnya, lihat kitab ‘Aunul Ma’buud, 6/33-34). (HR Abu Dawud (no. 2050), an-Nasa-i (6/65) dan al-Hakim (2/176), dishahihkan oleh Ibnu Hibban (no. 4056- al-Ihsan), juga oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

-3 Rabiul Tsani 1437 H
hadits yang menunjukkan keutamaan memiliki anak yang saleh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seorang manusia mati, maka terputuslah (pahala) amal (kebaikan)nya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya dengan diwakafkan), atau ilmu yang diambil manfaatnya (terus diamalkan), atau anak shaleh yang terus mendoakan kebaikan baginya.” (HR Ibnu Majah (no. 3660), Ahmad (2/509) dan lain-lain, dishahihkan oleh al-Buushiri dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaaditsish Shahiihah, no. 1598)

Zero Time Waste



Belum lama ini, aq melihat sebuah video mengenai sebuah kota di Jepang yang menerapkan konsep zero waste (video bisa dilihat di sini). Mereka menerapkan sebuah konsep pembuangan sampah yang detail (sampah dipilah sampai 34 jenis), sehingga setiap sampah yang dihasilkan bisa dimusnahkan, dikubur, atau didaur ulang. Aq merasa kagum dengan etos kerja orang Jepang yang selalu bersungguh-sungguh demi meraih tujuan mereka. Dalam agama Islam sendiri ada satu hadist yang berbunyi, “Allah menyukai orang yang bekerja dengan baik”. Artinya, bagi seorang muslim yang melakukan pekerjaanya dengan sebaik-baiknya untuk mengharapkan ridho Allah- dalam perkara dunia sekalipun- akan mendapatkan pahala. Bukankah nikmat sekali jika tiap aktivitas kita selama 24 jam mendapatkan keridhoan dari Allah karena kita mengerjakanya dengan sebaik-baiknya dengan niatan lillahi ta’ala?



Melihat video itu aq juga pingin menerapkan sebuah motto hidup, yaitu zero time waste. Artinya, tak ada waktu yang boleh terbuang percuma. Tiap aktivitas harus bermanfaat untuk perkara dunia ataupun akhirat. Aq jadi teringat pernyataan Ustad Erwandi dalam kajian ‘pandangan lelaki jantan terhadap dunia dan harta’, beliau berkata “muslim itu berpindah dari satu perkara penting kepada perkara penting lainya”. Artinya, nggak ada waktu untuk ngurusin perkara nggak penting seperti ngecekin akun ig artis (eh!).  

Sebenernya konsep memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, udah banyak banget dibahas di berbagai media. Motto waktu adalah uang udah begitu sering kita dengar sehari-hari. Tapi sebenarnya bagi seorang muslim, waktu itu buka uang, tapi waktu adalah pahala. Apalagi mengingat umur adalah salah satu hal yang akan dipertanggungjawabkan nanti. Lima menit saja dalam sehari yang terbuang percuma, kalo terakumulasi sampai umur 60 tahun, bisa berabe juga pertanggungjawabanya. Apalagi kenyataanya, aq bisa menghabiskan lebih dari 5 menit untuk perkara nggak penting (hiks!).

Udah dari dulu aq berusaha untuk membenahi penggunaan waktuku sehari-hari, dan aq selalu mengalami fase berhasil-gagal dalam hal ini. Dan setelah melihat video dari Jepang diatas, aq memutuskan untuk benar-benar serius memperhatikan penggunaan waktuku. Aq mulai dengan mencatat apa saja yang aq lakukan dalam sehari dengan sedetail-detailnya dan sejujur-jujurnya. Dan aq menyadari ada 1 benda kecil yang sukses melalaikanku. Yup! Apalagi kalo bukan android milik suami. Seriously! Aq punya hubungan cinta-benci dengan benda satu ini. Karena itu sampai sekarang aq belum tertarik untuk mengganti ponsel ‘tak terlalu pintar’ku. Karena kalo udah pegang smartphone, yang niat awalnya ngecek jadwal dauroh 5 menit doank, bisa jadi 15 menit karena ada share-sharean menarik di grup fb. Yang awalnya istirahat 15 menit, bisa jadi 30 menit kalo sambil pegang benda ini. Ah!

Lalu apa rencanaku untuk memperbaiki diri? Sepertinya aq memutuskan untuk nggak megang HP suami lagi. Pokoknya kalo mau online, ya pake laptop, itupun udah diniatkan dulu situs-situs apa aja yang mau dibuka. Dan aq juga mau pake alarm HP tiap kali lagi online jadi nggak keterusan karena ada batasan waktunya. Dan aq tetap mencatat apa saja kegiatanku dalam sehari, jadi aq bisa menganalisa apa saja yang perlu diperbaiki dari aktivitas-aktivitasku. Tentu saja proses ini tidak akan instan, dan akan ada hari-hari dimana aq gagal, tapi kalo aq istiqomah ‘zero time waste’ bener-bener bisa jadi gaya hidup kan? 

Apa kamu bilang? Saya lebay? Ah, nggak juga, cukup ingat saja ‘Allah mencintai hambanya yang bekerja dengan baik’.




Kamis, 07 Januari 2016

Semprit Durian



Pada dasarnya, cemilanku sehari-hari adalah biskuit/wafer dengan kopi. Biasanya sih aq beli aja biskuit-biskuit yang dijual di supermarket. Tapi, sejak si Bagas doyan ngemil biskuit juga, aq jadi berpikir untuk bikin biskuit sendiri. soalnya kalo dipikir-pikir, biskuit kemasan itu pasti pake pengawet dan sebagainyakan? Pernah sih aq coba ganti biskuit dengan ngemil buah, eh nggak bikin kenyang, dan lagi buah nggak matching sama kopi. Haha.. Aq tau harusnya minum kopinya yg dihentikan, tapi pelan-pelan ya, mulai dengan bikin cemilan sendiri dulu aja.

Begitulah di tahun 2016 ini, aq menambah jadwal mingguanku dengan membuat kue kering untuk cemilan di rumah. Aq sebenarnya nggak terlalu tertarik untuk bikin kue kering, karena nggak seperti cake yang tinggal mixer terus masukin oven, kue kering harus dicetak-cetak dulu. Tapi gapapa deh dicoba aja, toh bikinya nggak banyak-banyak banget kayak pas mau lebaran.

Jadi tanggal 6 Januari kemarin, aq membuat kue kering yang pertama yaitu semprit durian wijen. Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, durian lagi murah di Pekanbaru, jadi tiap di pasar ada jual durian aq beli deh. Hoho.. Nah, ini dia resep semprit durian wijenya, sumber dari bonus tabloit saji:

Bahan:
·         Daging durian,haluskan 75 gr
·         Margarin 150gr
·         Gula tepung 115 gr
·         Kuning telur 1
·         Tepung terigu protein rendah 210 gr
·         Maizena 25 gr
·         Susu bubuk 20 gr
·         Baking powder ¼ sdt
·         Wijen hitam-untuk taburan ½ sdm
Cara:
1.       Kocok margarin+gula tepung 1 menit, masukan durian aduk rata
2.       Masukan kuning telur, aduk rata. Masukan terigu+maizena+susu bubuk+baking powder, aduk rata
3.       Masukan kecetakan semprit
4.       Semprotkan adonan berbentuk huruf O ke loyang yang dioles margarin.
5.       Taburkan wijen
6.       Oven dengan api bawah pada suhu 140C +/- 30 menit

Berhubung aq nggak punya cetakan kue semprit, jadi aq masukin aja ke plastik segitiga,terus  waktu menuang adonanya aq bentuk hati biar lebih cantik. kebetulan aq juga nggak punya wijen hitam jadi kuenya nggak aq taburin apa-apa. Ternyata, proses membuat kue kali ini tak terlalu lama, soalnya adonanya tinggal dituang dan disemprot saja. 

Untuk pemanggangan, pada batch pertama aq coba mengikuti resep yaitu 140c selama 30 menit. Hasilnya baru 20 menit kue udah gosong. Hiks! Kebetulan aq emang nggak ngintip2 ovenya karena mandiin Bagas. 

batch pertama-gosong


Batch ke 2 aq panggang di suhu 100c, selama 20-25 menit. Begitu bagian bawah udah tampak kecoklatan, langsung kuangkat kuenya. Ternyata kue yang baru dipanggang masih lunak, tidak renyah seperti kue kering biasanya. Kuputuskan untuk mendinginkan kuenya dulu baru memutuskan apa kue harus dipanggang lagi atau tidak. Dan ternyata setelah dingin, kue mengeras sendiri. wah, baru tau eike kalo kue kering begitu, untung tadi nggak maksa manggang kuenya lagi.

Semprit Durian


Secara rasa, menurut aq kue ini biasa aja, aroma dan rasa durianya terasa, tekstur kue renyah sekaligus ringan. Enak, tapi nggak spesial. Mungkin karena aq lebih suka cookies yang terbuat  dari coklat, makanya kue ini terasa biasa aja bagi aq. Tapi, buat yang pingin kue yang beda dari biasanya, bolehlah resep ini di coba. Bikinya nggak repot dan nggak banyak makan waktu kok!