Selasa, 30 Agustus 2016

Durian Cake (in rose's shape)




Durian seasons’s back! Yay! It means that, they sold it in the low price at the market. It also means that its time to try a marmer cake recipe that I got sometimes ago! Could I be more happy? This recipe make my mouth wet just by imagined the taste. And turn out, the cake as good as the way i thought about it. This durian cake rich with durian flavor and absolutely very appetizing. I made the cake 2 times, 2 days straight! Yep, the cake is that good! Wanna try? Here the recipe:
Durian Marmer Cake (source : saji tabloid)

Ingredients:
·        Butter 225 gr
·        Sugar 125 gr
·        Durian fleash 200 gr
·        Egg 4
·        All Purpose Flour 280 gr
·        Powder milk 20 gr
·        Baking powder 2 tea spoon
·        Chocolate food colored

Rabu, 24 Agustus 2016

Kue Nenas yang Bikin Up Side Down


Kali ini kita akan ngomongin nenas. Yup! Ada dua kue yang kucoba bikin dengan buah yang juga rumahnya spongebob ini. Kedua resep ini bikin aku up side down dalam arti yang berbeda antara yang satu dengan yang lainya. Nah, ini dia kuenya:

Upside Down Cake

upside sown cake

Senin, 22 Agustus 2016

Marmer Durian (In Rose Shape)


marmer durian

Musim durian datang lagi! Yay! Kali ini aku mau share kue favorit ku yang belum lama ini kubuat. Jadi, waktu aku ke pasar (sering banget ya eike mention pasar, cewek pasar aja bangga, hoho) udah ada yang jual durian 2 biji Cuma 15 ribu. Semangat donk eike, langsung deh dibeli. Apalagi dari sebelumnya aku udah ngiler banget ngeliat resep kue marmer durian, n nggak sabar pingin ‘ngegarap’ tu resep. Dan ternyata ini kue memang pantas untuk ditetesi iler (eh), uenak tenan iki! Kuenya gurih berlemak, dengan rasa dan aroma durian yang kaya. Ah, top markotop lah pokoknya. Saking sukanya, 2 hari bertutur-turut bikin kue ini! Penasaran dengan resepnya? Ini dia:



Selasa, 09 Agustus 2016

What Matters Most



Belum lama ini aku ngeliat share-sharean dari salah seorang anggota grup masak yang aku ikuti. Dia ngeshare gambar kue sejenis dadar banyak banget, yang diikuti dengan penjelasan kurang lebih : ‘memenuhi pesanan orang, nggak tidur semalaman’. Wew! Nggak tidur? Aku nggak tau itu hiperbola atau nggak, yang jelas itu kue pesanan emang banyak banget. Gambar itu membuat aku sedikit merenung dan teringat pada suatu waktu yang lalu, waktu aku nyoba untuk jualan kue. 

What? Kamu pernah jualan kue,Feb? Haha.. pernah, nggak sampai seminggu. Jadi ceritanya aku mau cari duit tambahan dari rumah, nah sebuah ide ‘cemerlang’ muncul di kepalaku, yaitu jualan kue dengan sistem nitip kue di beberapa pedangan kue. Di Pekanbaru memang tiap pagi banyak orang jualan kue seribuan pake rak sterling. Nah, aq cobalah nawarin bolu kukus mekar ke tiga tempat. Sehari aku bikin lebih kurang 50 buah. Selama beberapa hari itu kueku seringnya habis, palingan kalo sisa cuma beberapa biji. Yah, secara angka aku untung.

Rabu, 03 Agustus 2016

Having Fun with Cetakan Kue Lumpur



Rupanya udah lama sekali aq nggak update blog ini, salah satu alasanya adalah karena selama bulan Ramadhan aq disibukan dengan hal lain (baca: tidur sesiangan). Eh, rupanya sampai lewat Bulan Syawal ini blog masih nggak terupdate juga. Nah, aku memutuskan untuk kembali konsisten menulis, hanya saja berhubung aq memutuskan suatu rencana lain, maka aq mengurangi waktu menulisku menjadi 15 menit sehari. Ups!

Nah, kali ini aku mau share tentang mainan baruku yang menyenangkan yaitu, cetakan kue lumpur. Aku beberapa kali ngiler dengan resep yang memerlukan cetakan kue lumpur, jadi aq senang sekali waktu menemukanya di suatu hari yang cerah di pasar yang becek. Harganya murah, kalo nggak salah sekitar 30ribu. Tapi rupanya membuat kue dengan cetakan ini memiliki keasikan tersendiri. Sungguh menyenangkan  untuk menuang adonan, memandangi adonan yang perlahan-lahan masak, lalu mengangkat kue berbentuk mangkuk kecil yang masih mengepulkan asap. Itu, adalah kesibukan kecil yang menyenangkan.

Sebenarnya cetakan kue lumpur nggak cuma bisa dipakai untuk bikin kue lumpur. Aku bahkan belum pernah membuat kue lumpur dengan cetakan ini, karena aku justru nggak terlalu ngiler ngeliat resep kue lumpur. Haha! Jadi aq bikin apa donk? Macem-macem. Tapi kali ini aq mau ngeshare dua resep kue yang berhasil kupotret dengan baik. Yah, apa boleh buat, berhubung sekarang si Bagas semakin kepo, jadilah aq sering gagal mengambil gambar kue yang cantik. Jadi ini dia, resep bika ambon mini dan kue cubit:

-Bika Ambon Mini:

bika ambon mini

Kamis, 16 Juni 2016

OL yang Melal(a)ikan



Rupanya udah lama banget ini blog nggak ku update, tau-tau udah Ramadan aja. Bukan karena ‘loosing my mojo’ ya, tapi karena banyak kesibukan lain (ah, sama aja, banyak alasan aja lo feb). Tapi beneran loh, akhir-akhir ini waktu terasa semakin terbang aja. Bahkan untuk motret kue hasil bikinanku lebih sering nggak sempatnya. Hiks! 

Kuakui beberapa kesibukanku penting, tapi sempat juga aku membuang waktu untuk perkara nggak penting. Online nggak tentu arah misalnya. Mulai dari belanja baju lebaran (udah dibeli sebelum Ramadan,haha!)  sampai mantengin berita ustajah abal-abal (nggak penting banget!). Ah, online, engkau selalu berhasil mengacaukan duniaku. 

Menyadari betapa online bisa sangat ‘merusak’, aku memutuskan untuk mengambil tindakan-tindakan preventif agar nggak kebablasan online nggak penting. Nah ini dia langkah yang kuambil biar nggak buang-buang waktu di depan layar:


  • ·         Mengetahui dan kalau perlu buat daftar apa aja yang ingin dicari di internet

Yup, aku bikin list apa aja informasi yang ingin kucari di internet, dan aku berusaha untuk disiplin dengan jadwal itu. Jadi, nggak ada ceritanya baca hal-hal nggak berguna cuma karena penasaran. Untuk langkah yang ini, di awal memang terkadang memang rada susah, tapi lama-lama terbiasa kok untuk ‘stick with the list’.

Senin, 02 Mei 2016

Mengenai Postnatal Depression



Belum lama ini aku membaca share-share-an soal depresi pasca melahirkan (postnatal depression) yang cukup menjadi viral (terakhir aku liat dishare sama 20ribu orang di fb). Postnatal depression sepertinya merupakan bentuk lebih parah dari baby blues, dan menurut tulisan itu hal ini bukanlah masalah kejiwaan (dan cukup wajar dialami seorang ibu). Membaca tulisan itu membuat aku jadi bertanya mengenai konsep baby blues dan depresi pasca melahirkan. 

Sebenarnya apa sih penyebab baby blues dan depresi? Masalah kejiwaan atau ketidakseimbangan hormon pasca melahirkan? Menurut situs babycentre, baby blues  disebabkan karena perubahan hormon yang akan sembuh dengan sendirinya, setelah beberapa hari. Sementara depresi pasca melahirkan penyebabnya sangat bervariasi, belum bisa dipastikan dan untuk penyembuhanya memerlukan bantuan tenaga ahli. 

Membaca keterangan itu, aku jadi bertanya lagi, apa yang menjadi pemicu depresi itu? ketidaksiapankah? Atau rasa kaget karena sebelumnya tak pernah bertanggung jawab penuh terhadap seorang bayi? Atau, bisakah seseorang tiba-tiba mengalami depresi tanpa alasan yang jelas? 

Jika memang depresi disebabkan karena perasaan kaget, bukankah semua ibu baru merasa kaget atas rutinitas barunya? Kaget bahwa ternyata bayinya tidak sesuai dengan artikel parenting yang sudah dibacanya. Kaget karena banyak hal yang terjadi tak terprediksikan sebelumnya. Menurutku kaget adalah hal yang wajar ketika kita menemui sesuatu yang baru dihadapan kita. Tapi reaksi atas rasa kaget itu tergantung dari kondisi masing-masing individu. 

Dan pertanyaan yang paling peting, jika memang benar bahwa depresi adalah sebuah ‘kewajaran’, lalu apa jalan keluarnya? 

Jumat, 22 April 2016

Ibuku Bukan Kartini



Tanggal 21 kemarin, kita merayakan hari Kartini. Satu hari yang biasanya diramaikan dengan kebaya dan diidentikan dengan harinya kaum wanita. Pada dasarnya aku tak memusingkan hari ini, hingga aku tak sengaja membaca sebuah pernyataan, yang membuat aku berpikir mengenai pemahaman konsep dibalik hari Kartini ini. Bahwa Hari Kartini diidentikan dengan emansipasi dan bahwa berkat Kartini, wanita bisa menjadi ‘lebih’ dari ‘sekedar’ urusan rumah tangga dan anak. Hm, sebelum aku mengemukakan pendapat mengenai konsep tersebut, aku rasa perlu untuk mencaritahu terlebih dahulu siapa sebenarnya Kartini dan apa sebenarnya peran beliau bagi kaum wanita. 

Kartini merupakan keturunan priyayi yang memperoleh pendidikan di Europese Lagere School hingga beliau berusia 12 tahun. Namun setelah itu, kebebasan Kartini memperoleh pelajaran dicabut karena beliau memasuki masa pingitan. Pada fase ini, berkat kemampuanya berbahasa Belanda, Kartini berkorespondensi dengan beberapa orang warga Belanda. Melalui proses inilah Kartini memperoleh berbagai pengetahuan mengenai kebudayaan Eropa dan memperoleh buku humanisme seputar nilai perempuan dari Ny Abendon (humanis berdarah Yahudi) seperti Karaktervorming der Vrouw (Pembentukan Akhlak Perempuan) karya Helena Mercier, Modern Maagden (Gadis Modern) karya Marcel Prevost, De Vrouwen an Socialisme (Wanita dan Sosialisme) karya August Bebel dan Berthold Meryan karya seorang sosialis bernama Cornelie Huygens. Tentu saja proses ini membentuk pola pikir Kartini, sehingga beliau merasa bahwa kondisi kaum wanita pribumi tertinggal dan berada pada status sosial yang rendah. Kartini menginginkan kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum terhadap kaum wanita. Kartini berpendapat bahwa wanita Indonesia juga berhak memperoleh pendidikan seperti kaum lelaki. Setelah menikah, beliau pun mendirikan sekolah bagi kaum wanita yang mengajarkan pengetahuan serta keterampilan.

Aku mengakui, apa yang diupayakan Kartini bermanfaat bagi wanita, dimana beliau mengupayakan pendidikan yang sebelumnya tidak dianggap perlu bagi kaum wanita. Namun sayangnya, upaya yang dilakukan oleh Kartini dianggap sebagai hasil pencerahan dari inspirasi pemikiran barat yang modern dan terbuka serta dikaitkan dengan konsep emansipasi. Yang pada akhirnya menimbulkan pergeseran konsep mengenai wanita yang sukses atau berpikiran maju. Bahwa sukses itu perkara di luar urusan domestik, bahwa menjadi ibu dan istri itu bukanlah sesuatu yang ‘wah’ atau ‘besar’. Coba saja tanya pada seseorang, siapa tokoh wanita yang dianggap sukses? Pastinya mereka adalah nama-nama yang memiliki peran yang jauh lebih besar dari ‘sekedar’ ibu dan anak.

Pertanyaanya, apa benar wanita itu sukses dan dikatakan ‘besar’ jika ia melakukan hal yang lebih dari sekedar ranah domestik? Jika begitu, coba pikir lagi, apa yang menjadikan Ummul Mukminin (ibunya orang yang beriman) Khadijah Radiallahu anha adalah salah satu wanita termulia yang pernah ada di muka bumi? Apakah karena kehebatanya berbisnis? Apakah karena kekayaan beliau? Tidak, Khadijah Radiallahu anha mulia karena menjadi istri shaleh yang senantiasa menjadi penyejuk bagi Rasulullah Sallallahu Alahi Wasallam. 



Tentu saja, konsep sukses adalah perkara yang relatif bagi tiap individu, tergantung dari prioritas hidup masing-masing. Lalu, apakah upaya Kartini untuk memberi pendidikan bagi warga pribumi memang ditujukan untuk emansipasi? Untuk menjadi ‘sukses’ dalam arti mengecilkan perkara domestik? 

Masa ‘Terbitlah Terang’ nya Seorang Kartini:

Selasa, 19 April 2016

Pizza Gulung Kacang



pizza gulung kacang

Resep kali ini kuambil dari klipingan resep lama punya mamaku, jadi aku nggak tau pasti resep ini dari majalah atau tabloid apa. Aku nyoba resep ini gegara minggu lalu aku nyobain croissantnya hypermart (sebenarnya bukan croissant beneran sih, bentuknya aja dimirp-miripin), jadilah aku kepingin makan lagi sebanyak-banyaknya. Berhubung aku nggak punya bahan buat bikin croissant, kupikir bikin roti mini jadilah.. hehe.. Jauh ya dari croissant jadi roti mini? Yah, menjelang aku memperoleh korsvet dan belajar bikin croissant sendiri (yang aku yakin nggak gampang buatnya), marilah menyimak resep pizza gulung kacang berikut:

Bahan kulit:
·         Terigu protein tinggi 300gr
·         Ragi 1 sdt (3 gr)
·         Gula 25 gr
·         Santan 190 ml (aku ganti dengan susu)
·         Minyak goreng 1 sdm (aku ganti dengan margarin yang dilelehkan)
·         Garam ½ sdt
Bahan Saus:
·         Santan 200 ml (aku ganti susu)
·         Gula merah disisir halus 50 gr
·         Daun pandan 1 lbr
·         Garam ¼ sdt
·         Larutan 1 ½ sdm maizena dengan 1 ½ sdm air
Bahan Taburan:
·         Kacang tanah sangrai dicincang kasar 100 gr
·         Gula pasir kasar 40 gr
·         1 Kuning telur dikocok lepas , aduk rata dengan 2 sdm susu cair.

Jumat, 15 April 2016

Resep Kue Serba Keju

Sudah lama rasanya aku nggak posting tentang resep kue. Sebenernya aku masih konsisten bikin kue kok, cuma aku sering kelupaan motret  hasil kue buatanku. Soalnya bikin kuenya sore atau malem sih, kan pencahayaanya bikin males banget buat foto. Nah, aku kembali mencoba konsisten untuk upload tiap resep kue yang udah aku cobain. Kali ini aku langsung ngeshare 3 resep sekaligus kue yang mengandung keju, soalnya males bikin 3 posting terpisah..hoho..Ya, entah mengapa akhir-akhir ini aku lagi ngiler tiap ngeliat resep kue yang mengandung keju, mungkin bawaan bayi kali ya? (bayi apaan? Bayi kucing? jangan bikin rumor deh..)

Oke, tanpa memperpanjang cerita ini dia tiga kue yang aku buat sebulan terakhir:

1.Donat Tape Keju (sumber:tabloit saji)

Donat Tape Keju

Ini donat terlembut yang pernah aku buat. Nggak tau karena bahanya atau karena aku benar-benar mengikuti resep untuk mendiamkan adonan sampai 3 kali, biasanya aku cuma diamin adonan 30 menit, terus langsung digoreng karena nggak sabar..hoho..

Bahan :
·         Terigu 400 gram
·         Tape singkong, haluskan 150 gram
·         Gula pasir 25 gr
·         Ragi instan 12 bungkus
·         Baking powder ½ sdt
·         Telur 1 butir
·         Air es 150 ml
·         Garam 1/8 sdt
·         Margarin 65 gr
·         Minyak untuk menggoreng
Topping: buttercream (aku ganti margarin aja) dan keju cheddar parut 100 gr
Cara:
1.       Ayak terigu dan baking powder. Tambahkan ragi dan gula pasir. Masukan tape. Aduk rata
2.       Masukan telur dan air es sedikit-sedikit sambil diuleni sampai kalis
3.       Tambahkan margarin dan garam. Uleni sampai elastis.
4.       Diamkan adonan 30 menit. Kempiskan adonan lalu timbang masing-masing 30 gram. Bulatkan. Diamkan 10 menit.
5.       Ambil 1 adonan. Pipihkan. Bolongkan tengahnya, diamkan 30 menit.
6.       Goreng, dinginkan, beri topping.

2. Roti keju toping kopi (sumber:tabloit saji)

Roti keju toping kopi

Senin, 11 April 2016

Keuntungan Anak Tidak Mendengarkan Musik

Salah satu hal yang tak pernah aku ajarkan pada Bagas adalah musik dan nyanyian. Ya, sebagai ibu, aku tak pernah mengajak anaku bernyanyi atau mengajarkan dia nyanyian. Handphone suamiku tak ada musik (hp ku nggak bisa mutar musik) dan di rumah kami tak pernah menyalakan televisi (bukan anti tv,karena nggak punya antena aja,haha..). Di handphone suamiku hanya ada murottal dan ceramah agama. Otomatis, Bagas tak punya akses terhadap musik dan tak punya pilihan lain selain mendengar apa yang tersedia.

Aku bukan pembenci musik, dulu setiap hari aku mutar musik. Hingga ketika aku menikah dengan suamiku, mengikuti pengajian sunnah dan mengetahui dengan benar hukum musik dalam Agama Islam. Sejak itu, aku tak memutar musik lagi. Berikut salah satu dalil yang mengharamkan musik, seperti yang kukutip dari rumaysho.com

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (QS. Luqman: 6-7)

Ibnu Mas’ud ditanya mengenai tafsir ayat tersebut, lantas beliau –radhiyallahu ‘anhu– berkata, Yang dimaksud  (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, demi Dzat yang tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Dia.” Beliau menyebutkan makna tersebut sebanyak tiga kali.

Jika ada yang mengatakan, “Penjelasan tadi kan hanya penafsiran sahabat, bagaimana mungkin bisa jadi hujjah (dalil)?”
 
Maka, cukup kami katakan bahwa tafsiran sahabat terhadap suatu ayat bisa menjadi hujjah. Ibnul Qayyim mengatakan, “Walaupun itu adalah penafsiran sahabat, tetap penafsiran mereka lebih didahulukan daripada penafsiran orang-orang sesudahnya. Alasannya, mereka adalah umat yang paling mengerti tentang maksud dari ayat yang diturunkan oleh Allah karena Al Qur’an turun di masa mereka hidup”.

Lalu bagaiman dengan penelitian para ahli yang menunjukan manfaat musik bagi anak-anak? Aku tak menampiknya, aku percaya musik memiliki sedikit manfaat. Tapi  manfaatnya tak sebanding dengan mudharatnya. Perlu diingat bahwa adalah wajib bagi seorang muslim untuk beriman ketika dalil sudah datang padanya. Dan apakah aku berani menyandingkan dalil dengan perkataan entah siapa? Berikut aku kutip pernyataan Ibnul Qayyim

“Firman Allah dan sabda Rasul Nya itulah ilmu. Juga perkataan para sahabat, mereka ahli ilmu. Bukanlah ilmu jika secara bodoh kamu melawankan antara sabda Rasul dengan perkataan seorang fulan”

Mungkin akan ada yang berpikir bahwa, anaku kasihan karena tak bisa bersenang-senang seperti anak kebanyakan, dan bahwa musik membuat hidup lebih berwarna.Menurutku pendapat itu terasa berlebihan. Bersenang-senang tidak hanya dilakukan dengan musik. Dan jika seorang muslim berkata bahwa musiklah yang membuatnya tenang dan bahagia, aku ingatkan kembali ayat berikut: 

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’du: 28)

Lalu apa keuntungan yang kuperoleh dari tak pernahnya Bagas mendengarkan musik? Pertama, karena dia tak punya akses ke musik, ketika ia megang HP abinya mau nggak mau dia mendengarkan murottal. Kedua, karena dia cuma tau murottal dan adzan, maka ketika dia ingin bersenandung maka yang dia senandungkan adalah adzan dan murottal. Ketiga, karena dia cendrung lebih sering dengar murottal, mau nggak mau dia hapalnya surat Al Quran, lebih tepatnya Al-Fatihah. Memang belum lancar dari ta’awudz sampai amin sih, tapi dia sudah bisa menyambung kalau aku pancing dengan kata-kata awal. Not bad lah.. Bukankah bagi seorang muslim lebih bermanfaat surat Al Fatihah dibandingkan ‘balonku ada lima’?

Memang sih, aku tak bisa selamanya menutup akses Bagas dari musik. Zaman sekarang, musik diputar dimana-mana, mesjid aja mutar musik ‘islami’ kok. Tapi paling tidak, bukan aku yang memperkenalkan musik pada anaku. Mengapa itu penting? karena kita bertanggungjawab terhadap tanggungan kita. Ketika mengajarkan yang baik, kita mendapatkan balasan, ketika mengajarkan yang buruk pun kita mendapat balasan.

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,
"Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123). (dikutip dari muslim.or.id)
 
 ODOPfor99days #day22

Senin, 28 Maret 2016

Obat Demam Alami Anak



Kurang lebih sebulan yang lalu Bagas mendadak demam tinggi. Sabtu malam suhunya mecapai 39,5 derajat Celcius. Sebenarnya, kalau ke dokter anak, jika demamnya segitu biasanya langsung dikasih obat yang dimasukan melalui anus. Tapi berhubung stock obat di rumah udah lama, aku nggak berani kasih. Akhirnya, Bagas kukasih penurun demam biasa dan kukompres.

Hari Minggu pagi, demam Bagas belum berkurang. Aku dan suami agak khawatir karena kondisi Bagas lemas, padahal biasanya walaupun demam dia tetap semangat main. Sebenarnya kami pingin bawa dia ke dokter, tapi berhubung hari Minggu, dokter langganan nggak praktek. Akhirnya, kami memutuskan untuk menunggu sampai siang untuk melihat perkembangan kondisi demamnya. 

Untungnya di rumah ada buku ‘1001 Resep Obat Asli Indonesia’ karangan sinshe Abu Muhammad Faris Al Qiyanji. Buku ini berisi berbagai resep obat tradisional untuk berbagai penyakit, mulai dari yang ringan seperti batuk hingga yang berat seperti pembengkakan hati. Untuk demam sendiri, resepnya bermacam-macam. Aku memilih mencoba 3 saran, yaitu memberi perasan wortel, memberi makan buah semangka yang banyak, dan mengoleskan campuran bawang dan minyak ke seluruh tubuh Bagas. Disamping itu aku juga memberi obat demam anak(sanmol) secara berkala. 

Alhamdulillah, sorenya demam Bagas turun, dan menjelang Maghrib ia sudah bisa dikatakan sembuh. Aku nggak tau apa penyebab demam dadakan bagas, tapi qadarullah gabungan dari obat-obatan alami itu cukup manjur. Nah, berikut resep dari buku ‘1001 Resep Obat Asli Indonesia’ yang aku cobain ke Bagas : 

Sabtu, 26 Maret 2016

Dunia IRT sempit? Perasaan Lo Aja Kali...



Salah satu stigma yang menurutku kurang tepat adalah bagaimana ibu rumah tangga sering dipandang sebagai kelas kedua dibandingkan para wanita yang bekerja. Seakan-akan IRT memiliki dunia yang sempit dan tertinggal di belakang. Nggak sedikit deh aku baca atau dengar komentar seperti, ‘sayang, taunya urusan rumah tangga aja’, atau ‘nggak berkembang karena sekarang sibuk ngurusin anak doank’, ‘di rumah ngapain aja sih? Enak donk tidur-tidur’ dan kalimat-kalimat lain dengan nada sejenis. Salah satu pengalaman nyata lainya adalah ketika ibuku ditanya oleh pegawai pustaka wilayah apa pekerjaanya, kemudian mereka tak percaya ketika ibuku menjawab bahwa beliau  ‘Cuma’ IRT (mereka mengira ibuku guru), karena tiap minggu rutin pinjam buku ke sana. Kalimat-kalimat itu, pada dasarnya bermuara pada pola pikir yang sama: IRT tidak diapresiasi sebagai pekerjaan produktif dan miskin ‘development’. 

Apa benar begitu? Pertanyaan dan pernyataan usil mengenai IRT ini, membuatku ingin balik mengkritisi dan bertanya :

Lalu kenapa kalau taunya urusan rumah tangga saja?

 Jika memang seseorang taunya urusan rumah tangga saja, lalu kenapa? Apakah artinya pengetahuan seputar rumah tangga itu useless? Jika begitu, lalu bagaimana dengan Martha Stewart ? Bukankah  Martha Stewart justru terkenal karena pengetahuanya di ranah domestik? Martha Stewart merupakan pakar dibidang masak-memasak, bersih-bersih, menata barang-barang, berkebun, menjahit, dan segala tetek-bengek rumah tangga ‘banget’  lainya.  Tapi toh justru pengetahuanya itu yang mengantarkanya hingga memiliki acara tv dan majalah yang populer hingga sekarang. Jadi siapa bilang pengetahuan seputar rumah tangga itu pantas untuk diembel-embeli dengan ‘Cuma’ atau ‘doank’?

IRT pengetahuanya sempit? Ah masa?

Sabtu, 19 Maret 2016

Yang Dibutuhkan Penulis



Belum lama ini aku menamatkan buku My Life as A Writer karya Haqi Achmad dan Ribka Anastasia Setiawan. Aku belinya cuma Rp 10.000 di acara diskon Gramedia, dan ternyata isinya lumayan bermanfaat. Buku ini berisi wawancara dengan penulis yang sudah menerbitkan buku, yaitu : Alanda Kariza, Farida, Vabyo, Clara Ng, dan Dewi Lestari (sebenarnya sih aku cuma tau 2 yang terakhir aja, hehe..). Dari buku ini , ada beberapa pelajaran yang bisa aku petik mengenai cara menjadi penulis yang baik. 

sumber:ribka-anastasia.blogspot.com

Sabtu, 12 Maret 2016

Dibalik Marah



Mengurus anak bukanlah hal yang mudah. Mendidiknya apa lagi. Rasanya, setiap hari seorang ibu harus terus berhadapan dengan kondisi yang mengharuskan untuk dilakukan pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Keputusan yang terkadang memiliki efek sepele tapi juga tak jarang memiliki efek jangka panjang (seperti melukai perasaan  anak). 

Setiap ibu pasti sering dilema dalam mengambil keputusan untuk marah atau tidak, bersikap tegas atau longgar, menuruti keinginan anak atau menolak, dan sebaginya-dan sebagainya. Tak pernah ada jawaban yang benar tentang hal itu, bukan? Setiap situasi memiliki jawaban yang berbeda. Dan sebanyak apapun artikel parenting telah kita baca, pada akhirnya intuisi lebih sering digunakan daripada teori para pakar. 

Salah satu dilema yang paling sering kualami adalah dilema untuk memarahi anak atau tidak. Pernah dengar pernyataan yang mengatakan bahwa membentak anak bisa merusak sel-sel otaknya? Ada yang berhasil untuk tak pernah membentak anak sama sekali sepanjang proses mengurus anak? Mungkin ada, tapi sebagai ibu yang kurang sabaran, mengalami PMS dan kelelahan seperiku, tidak pernah membentak anak adalah hal yang mustahil rasanya. Belum lagi perasaan dilema seperti ,’entar kalau nggak pernah dibentak, ini anak tumbuh tanpa perasaan segan kepadaku dan terbiasa bersikap seenaknya’. 

Apakah pola pikirku benar? Apakah sebagai orangtua yang juga ingin menjadi sahabat si anak berarti kita tak boleh memarahinya? Atau kita boleh marah tapi tanpa membentak? Bagaimana pula caranya itu? Kalau dipikir-pikir lagi, bukankah kita boleh memukul anak jika ia berumur 10 tahun yang tidak mau sholat? Apakah itu artinya kita boleh memarahi anak dengan cukup keras setelah ia berumur cukup besar?

Minggu, 06 Maret 2016

Takut



Kemaren aku mengalami ketakutan yg dalam yang belum pernah kualami sebelumnya. Jadi, pagi hari pukul 7, aku berencana berbelanja ke pasar. Di jalan aku dijambret. Aku tak ingat persis kejadianya dan bagaimana aku jatuh, kata ibu-ibu yang menolongku, aku terguling-guling. Yang jelas kepalaku benjol (padahal aku pakai helm) dan penglihatanku terganggu dan tak dapat fokus. 

Setelah suamiku datang, aku dibawa ke rumah sakit. Kata dokter, mereka harus melakukan observasi selama 1 jam setengah untuk memastikan benturan di kepalaku hanya terjadi di luar tengkorak. Jadi, aku bertanya pada dokter itu apa yang menjadi indikasi ada benturan yang berbahaya. Pada titik ini jika aku menggerakan kepala terlalu banyak, semua hal di sekelilingku berputar-putar kencang. Dokter itu menjawab bahwa jika ada pendarahan di dalam tengkorak, biasanya pasien akan muntah kemudian dengan cepat kehilangan kesadaranya. Jika sudah begitu ia akan koma. Hah?! Serem amat? Padahal saat itu perutku sudah mual dan aku tau aku ingin muntah.

Aku langsung berpikir banyak. Bagaimana jika dalam waktu dekat malaikat maut mendatangiku, dan  mencabut nyawaku? Aku bukanlah ahli ibadah, bukanlah seorang istri dan ibu yang baik, bukanlah seorang anak yang berbakti, bukanlah tetangga dan teman yang menyenangkan. Lalu darimana peluangku masuk ke dalam surga? Aku ingat betul mengenai hadist tentang hal yang akan dialami oleh pembuat maksiat setelah nyawanya dicabut dari jasadnya. Bagaimana jika nyawaku di bawa kelangit dalam kondisi sangat busuk kemudian  malaikat tak mau membukakan pintu langit dan nyawaku dihempaskan kembali ke jasadku begitu saja? Bagaimana jika aku tak dapat menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur? Bagaimana jika di dalam kubur aku ditemani makhluk yang sangat buruk yang merupakan hasil amal buruku? Bagaimana jika aku didatangi makhluk, yang rasa belas kasih telah dicabut dari dadanya, membawa palu godam besar, untuk memecahkan kepalaku terus menerus hingga hari kiamat kelak? Ya Allah aku takut.


Sabtu, 27 Februari 2016

Sudut Pandang Dalam Menghadapi Tingkah Anak



Belum lama ini, aku melihat dua kakak beradik laki-laki bergelut di Mesjid. Kedua anak itu mungkin  umurnya sekitar  4-6 tahun, dengan potongan rambut seperti batok kelapa. Mereka saling mengganggu, kejar-kejaran dan berebut tas ibunya. Karena mereka tarik-tarikan, akhirnya salah satu dari kedua anak itu jatuh tertelungkup. Eh, waktu melihat saudaranya tersungkur gitu, anak laki-laki yang satu lagi malahan dudukin punggungnya ala-ala smack down gitu. Aku otomatis ngakak ngeliat tingkah kedua anak itu. Haha..

Aku jadi berpikir, sepertinya lucu kalau anakku yang kedua laki-laki juga, jadi si Bagas ada lawanya. Jadilah hal itu aku sampaikan ke suami, aku bilang ‘kayaknya kalau adek hamil lagi pinginya laki-laki lagi aja’. Kemudian aku ceritakan sama si mas apa yang aku lihat di mesjid. Terus si mas berkomentar begini,’ ya, adek bilang itu lucu karena liatnya baru sekali, coba kalau tiap hari ngeliat mereka bergelut kayak gitu di rumah, bisa-bisa adek uring-uring terus’.

 Hm, sepertinya suamiku ada benarnya. Tapi aku jadi tercenung juga, terkadang kita tidak mensyukuri apa yang kita miliki, bukan? Misalnya nih, dulu waktu hamil ngeliat anak kecil berantakin lemari, aku bisa ketawa ngakak karena menganggapnya lucu. Eh, waktu Bagas melakukan hal itu tiap hari, aku tak menganggap hal itu lucu lagi, tapi justru merasa sebal. Capek tau beresin baju yang udah dilipat rapi-rapi. Padahal kalau udah nggak bete lagi, aku bisa senyum-senyum sendiri mengingat tingkah polah si Bagas ini. 

Apalagi aku pernah ngebaca status seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Ibu itu seneng banget waktu anaknya akhirnya berantakin rumahnya. Sesuatu yang mebuat sebal para ibu beranak normal. Ah, kalau sudah begitu aku bisa menyesal sendiri, karena kurangnya rasa syukur yang kumiliki. Ya, kenakalan-kenakalan kecil yang dilakukan anak kita terkadang memang menyebalkan (apalagi kalo lagi PMS), tapi hal itu justru yang menjadikan anak-anak sebagai anak-anak. Bisa dibayangin nggak, kalo anak-anak diciptakan langsung memiliki logika seperti orang dewasa. Where’s the fun in that? Mengutip perkataan Imam Ghazali (kalo nggak salah ), ‘tidak akan tercipta yang lebih indah daripada apa yang telah tercipta’.

Ya, aku menyadari bahwa usia-usia awal anak, adalah fase yang merepotkan dan menyita perhatian. Tapi ini juga fase yang termenyenangkan. Ini adalah saat mereka bertingkah dengan berbagai kepolosan murni seorang anak-anak. dan aku sangat menikmati menatap mata anaku yang masih polos itu (kenapa aku tak punya pandangan sepolos itu? hehe) . Apalagi di fase ini kita jauh lebih bebas untuk mencium, memeluk, menggendong dan bergelut dengan mereka. Kelak jika ia bertambah besar tentu kita tak sebebas itu lagi melakukan hal ini. 

aku lupa ini gambar ngopi darimana

Kamis, 25 Februari 2016

'Wise' woman: accept it-like it is



Beberapa hari lau, aq bertambah umur. Sejujurnya, aku tak suka meninggalkan usia wanita muda dan beranjak menuju wanita ehem ‘matang’. Maunya muda aja terus pokoknya. Haha.. Padahal perigatan dari Allah sudah lama datangnya. Apa itu? Uban! Yup, pada suatu hari waktu suami mengoleskan vitamin ke rambutku (ya, itu tugas dia, kan dia juga yang nikmatin kelembutan rambutku ;p ), tetiba dia berkomentar,”Adek udah banyak peringatanya nih”. Hah!? Serta merta aku ngecek di kaca, bener bok! Di sela-sela rambut hitam bermunculan rambut-rambut keperakan! Aaaaaaaaaa! Masa umur segini eike udah ubanan! 

Aku rasa uban ini bermunculan semenjak aku punya si Bagas. Ya, mengurus anak bukan hal yang mudah bagiku. Uban-uban ini agaknya muncul dari pikiranku yang kadang jelimet sendiri. Jadi, di pertambahan umur ini, aku memutuskan untuk menyimplekan hidup, yaitu : stop being a drama queen and roll with the punches! Artinya, aku nggak akan mikirin hal yang nggak penting dan menerima kondisi yang ada.

Aku akui saja anak-anak memang sangat menguji kesabaranku yang kebetulan tak seberapa itu. Aku ingin melakukan sebuah percobaan, yaitu setiap kali aku mau marah sama si Bagas, aku justru akan memaksa diriku untuk diam dan mencium dia. Lalu kabur meninggalkan ‘medan pertempuran’. Aku pikir, lebih baik aku menunda menghadapi hal-hal yang mengesalkanku hingga pikiranku lebih tenang, sehingga tak tercetus kata-kata yang akan kusesali belakangan. Apakah cara itu berhasil? Ah, masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan. 

Bagas n Bening sibuk minta tiup lilin :)

Rabu, 24 Februari 2016

Untuk Bagas

Dalam sebuah hadits shahih dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak lama lagi umat-umat lain akan saling menyeru untuk mengeroyok kalian seperti orang-orang yang makan mengerumuni nampan (berisi hidangan makanan)“. Salah seorang sahabat  bertanya: “Apakah dikarenakan jumlah kita sedikit kala itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bahkan kalian saat itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih (tidak memiliki iman yang kokoh) seperti buih air bah, sungguh (pada saat itu) Allah akan menghilangkan rasa takut/gentar terhadap kalian dari jiwa musuh-musuh kalian dan Dia akan menimpakan (penyakit) al wahnu ke dalam hati kalian.” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (penyakit) al wahnu itu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cinta (kepada perhiasan) dunia dan benci (terhadap) kematian“ (dikutip dari muslim.or.id)

Dikeroyok, jujur saja, begitulah kondisi umat muslim sekarang ini. Mulai dari serangan fisik secara terang-terangan, penghinaan, hingga menyusupkan logika nyeleneh ke dalam umat ini. Umat muslim sendiri mulai kurang pede menunjukan identitasnya dan tidak berani dengan tegas menunjukan sikapnya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan agama. Bahkan, tak berani dengan tegas mengatakan bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang paling benar, karena takut dianggap fanatik.

Pertanyaanya, apakah meyakini bahwa agama yang kita anut adalah agama yang paling benar menjadikan kita seorang fanatik? Jika memang begitu ,lalu arti iman itu apa sih? Dalam Islam sudah jelas, meyakini hanya Allah Rabb yang berhak untuk disembah. Tidak ada yang lain. Lalu iman seperti apa yang tidak meyakini bahwa agamanya lah yang paling benar? 

Aku nggak mengatakan bahwa kita harus berkoar-koar mengatakan hal ini di depan seorang non muslim atau bersikap tidak menyenangkan terhadap mereka. Tapi keyakinan bahwa agama yang kita anut adalah agama yang benar adalah sesuatu  yang pasti mengikuti konsep iman, bukan? Jika kita meyakini semua agama benar, maka kita tidak mengimani agama manapun. Jika kita mengatakan semua Tuhan berhak disembah berarti kita tidak meyakini Tuhan yang manapun. Setiap pemeluk agama pasti meyakini bahwa agama yang dianutnyalah yang paling benar, jika tidak dia tidak akan memeluk agama itu bukan? 

Ah, melihat bagaimana kondisi saat ini, aku jadi mengkhawatirkan anakku sendiri. Aku menyadari, bahwa aku harus menanamkan prinsip yang kuat di hati anaku. Tidak, aku tidak akan mengajarkanya untuk membenci pemeluk agama lain, tapi aku tak mau ia tumbuh menjadi orang yang mencla-mencle dan tidak memiliki pendirian. 

Karena itu aku berencana untuk mengenalkan Bagas sebanyak mungkin tokoh dan sejarah agamanya. Kita akui saja anak-anak muslim lebih mengenal tokoh Disney daripada para sahabat. Lebih hapal lirik ‘let it go’ daripada shalawat dan dzikir harian. Toko buku juga lebih banyak menjual buku fiksi tak masuk akal dibandingkan sejarah yang memiliki hikmah yang nyata. Lalu bagaimana mereka bisa yakin jika kenal saja tidak?

Aku berpikir untuk menuliskan si Bagas cerita anak-anak berdasarkan kisah nyata kaum muslimin di masa lalu. Sekedar kisah-kisah ringan yang pendek dan bergambar sehingga gampang untuk dipahami anak-anak. Harapanku, semoga saja dengan seringnya ia mendengar dan mengenal kisah-kisah dari agamanya, perasaan cinta dan yakin terhadap agamanya tumbuh dengan kuat dihatinya. Insya Allah.