Sabtu, 26 Desember 2015

Happy PMI's Donation Month!



Suatu hari seorang ibu -yang putranya sedang bersafar-  duduk sambil makan, dan tidak ada dihadapannya kecuali hanya sesuap sayur dan sepotong roti. Lalu datanglah seorang peminta-minta, sang ibupun menahan mulutnya untuk tidak makan dan ia memberikan makanan tersebut kepada sang peminta-minta sehingga iapun bermalam kelaparan. 

Tatkala sang putra tiba dari safarnya maka sang putrapun menceritakan kepada ibunya tentang apa yang ia temukan dalam perjalanan safarnya. Sang putra berkata, "Diantara perkara yang sangat menakjubkan dalam safarku yaitu di tengah jalan ada seekor singa yang mengikutiku, dan tatkala itu aku hanya sendirian. Maka akupun lari, akan tetapi sang singa berhasil meloncat menerkam aku, dan tanpa aku sadari tiba-tiba aku sudah di hadapan mulutnya. Akan tetapi tiba-tiba ada seorang lelaki yang memakai baju putih muncul di hadapanku lalu menyelamatkan aku dari singa tersebut. Lalu lelaki itu berkata, "Suapan dibalas dengan suapan". Dan aku tidak paham maksudnya.".

Kamis, 17 Desember 2015

Pengalaman Menyapih Bgs



Akhir November kemaren, usia Bagas genap 2 tahun. Artinya, suka-nggak suka aq harus nyapih dia. Ini adalah moment yang cukup bikin aq deg-degan sekaligus males mikirinya. Soalnya, Bagas nggak terlalu suka susu bubuk, sehari paling minum 1-2 botol doank selebihnya minum asi (Hemat beib!). Otomatis aq dan si mas rada khawatir gimana rewelnya Bagas kalau tiba-tiba nggak boleh nyusu lagi. 

Jadi demi menyukseskan program sapih-menyapih ini, suami pun berinisiatif untuk cuti demi bantu aq menghadapi kerewelan Bagas. Kami memutuskan memakai sistem mendadak berhenti dengan cara mengoleskan brotoali. Aq baca dan denger sih dari beberapa ibu, bahwa mereka nggak tega ngasih brotoali/pahit-pahitan ke anaknya, malahan ada yang pake metode ‘weaning with love’-metode menyapih secara bertahap dengan terus-menerus mengatakan pada anak dengan lembut untuk berhenti menyusu, alias nggak pake pahit-pahitan. Tapi aq kayaknya nggak yakin bisa bersabar menyapih secara pelan-pelan seperti itu. Lagian aq sebenernya cukup menikmati menyusui bagas sampai 2 tahun (walau kadang bete juga kalo dy ngempeng kelamaan).  

Jadi dalam bayangan aq menyapih itu simple, kasih brotoali-bagas kepahitan-gak mau nyusu lagi- akhirnya minum susu. Aq kira masalah terberatnya, kerewelan Bagas aja. Ternyata saya salah saudara-saudara! Bukan cuma Bagas yang menderita pada proses sapih-menyapih ini, tapi emaknya juga! Rupanya, menyapih itu sangat tidak nyaman dan sakit. Hal ini disebabkan asi produksi terus, sementara penyaluranya nggak ada. Hasilnya, bengkak dan perih.