Sabtu, 26 Desember 2015

Happy PMI's Donation Month!



Suatu hari seorang ibu -yang putranya sedang bersafar-  duduk sambil makan, dan tidak ada dihadapannya kecuali hanya sesuap sayur dan sepotong roti. Lalu datanglah seorang peminta-minta, sang ibupun menahan mulutnya untuk tidak makan dan ia memberikan makanan tersebut kepada sang peminta-minta sehingga iapun bermalam kelaparan. 

Tatkala sang putra tiba dari safarnya maka sang putrapun menceritakan kepada ibunya tentang apa yang ia temukan dalam perjalanan safarnya. Sang putra berkata, "Diantara perkara yang sangat menakjubkan dalam safarku yaitu di tengah jalan ada seekor singa yang mengikutiku, dan tatkala itu aku hanya sendirian. Maka akupun lari, akan tetapi sang singa berhasil meloncat menerkam aku, dan tanpa aku sadari tiba-tiba aku sudah di hadapan mulutnya. Akan tetapi tiba-tiba ada seorang lelaki yang memakai baju putih muncul di hadapanku lalu menyelamatkan aku dari singa tersebut. Lalu lelaki itu berkata, "Suapan dibalas dengan suapan". Dan aku tidak paham maksudnya.".

Kamis, 17 Desember 2015

Pengalaman Menyapih Bgs



Akhir November kemaren, usia Bagas genap 2 tahun. Artinya, suka-nggak suka aq harus nyapih dia. Ini adalah moment yang cukup bikin aq deg-degan sekaligus males mikirinya. Soalnya, Bagas nggak terlalu suka susu bubuk, sehari paling minum 1-2 botol doank selebihnya minum asi (Hemat beib!). Otomatis aq dan si mas rada khawatir gimana rewelnya Bagas kalau tiba-tiba nggak boleh nyusu lagi. 

Jadi demi menyukseskan program sapih-menyapih ini, suami pun berinisiatif untuk cuti demi bantu aq menghadapi kerewelan Bagas. Kami memutuskan memakai sistem mendadak berhenti dengan cara mengoleskan brotoali. Aq baca dan denger sih dari beberapa ibu, bahwa mereka nggak tega ngasih brotoali/pahit-pahitan ke anaknya, malahan ada yang pake metode ‘weaning with love’-metode menyapih secara bertahap dengan terus-menerus mengatakan pada anak dengan lembut untuk berhenti menyusu, alias nggak pake pahit-pahitan. Tapi aq kayaknya nggak yakin bisa bersabar menyapih secara pelan-pelan seperti itu. Lagian aq sebenernya cukup menikmati menyusui bagas sampai 2 tahun (walau kadang bete juga kalo dy ngempeng kelamaan).  

Jadi dalam bayangan aq menyapih itu simple, kasih brotoali-bagas kepahitan-gak mau nyusu lagi- akhirnya minum susu. Aq kira masalah terberatnya, kerewelan Bagas aja. Ternyata saya salah saudara-saudara! Bukan cuma Bagas yang menderita pada proses sapih-menyapih ini, tapi emaknya juga! Rupanya, menyapih itu sangat tidak nyaman dan sakit. Hal ini disebabkan asi produksi terus, sementara penyaluranya nggak ada. Hasilnya, bengkak dan perih.

Minggu, 29 November 2015

Special Jewelry From Orori



 Sebuah perhiasan yang special adalah perhiasan yang sanggup membangkitkan suatu kenangan atau melekat dengan orang/moment penting di hidup kita. Karena itu, saya berkeinginan untuk memiliki sebuah kalung dengan huruf inisial nama saya dan suami. Tetapi saya menginginkan bentuk huruf yang unik sehingga tidak terlihat pasaran. 

Setelah browsing di internet, saya merasa tertarik dengan pendant berbentuk huruf yang dijual di  Orori. Sebuh toko online  yang tak hanya menjual perhiasan emas biasa, tapi juga berlian bersertifikat  dengan kualitas yang baik. Desain pendant huruf Orori sungguh unik karena mengikuti beberapa jenis font yang ada di komputer. Saya membutuhkan pendant huruf F dan N serta beberapa pendant lain yang berfungsi sebagai pemanis kalung saya. 

Di antara koleksi pendant Orori, saya merasa tertarik dengan bandul huruf F Times New Roman dan huruf N Harrington serta beberapa buah pendant berbentuk bulat. Huruf F Times New Roman memiliki kesan yang simple serta clean, sedangkan huruf N Harrington memiiki lengkungan yang terkesan fancy.



Jumat, 27 November 2015

These Happy Golden Years


Ada beberapa buku yang saya baca lagi, lagi, dan lagi tanpa pernah merasa bosan. Diantara buku-buku tersebut, salah satu judul terfavorit saya adalah Tahun-Tahun Bahagia atau These Happy Golden Years (versi  Amerika) karangan Laura Ingalls Wilder. Buku ini merupakan salah satu judul dari seri Little House yang merupakan buku klasik Amerika, yang masih terkenal  hingga saat ini. These Happy Golden Years pertama kali diterbitkan pada tahun 1943, yang menceritakan kisah hidup penulis sendiri  saat ia masih seusia gadis remaja, sekitar tahun 1885. Yup! buku ini menceritakan perjalanan kehidupan manusia 130 tahun yang lalu, benar-benar sebuah kisah klasik bukan?


Seri little house mungkin dapat dikatakan buku klasik yang terpopuler hingga saat ini. Seri ini telah dicetak ulang beberapa kali dan memenangkan award nyaris disetiap judulnya.  Seri Little House juga  diangkat menjadi beberapa acara televisi dan kartun animasi, salah satunya berjudul Little House On The Prairie  pada tahun 1974. Acara televisi ini disambut dengan antusias oleh masyarakat, dan bertahan di layar kaca selama 10 tahun. Hal ini menjadikan Seri Little House dikenal dan diminati dari generasi ke generasi. Bahkan rumah-rumah yang pernah ditempati Laura Ingalls semasa hidupnya masih dirawat dan dijadikan museum yang dapat dikunjungi oleh pecinta serial Little House.

Selasa, 03 November 2015

Instagram oh Instagram

Saya punya nyaris semua social media, meskipun saya tidak menggunakanya untuk bersosialisasi. Saya bersosmed untuk kepentingan pribadi, seperti syarat ikutan lomba, hehe.. Salah satu sosmed favorit saya adalah instagram. Walaupun saya nggak upload foto kesana, tapi sebenarnya saya cukup sering buka sosmed yg satu ini. Ngapain donk? Stalker ya? Yah, kurang lebih begitu. Awalnya saya ngikutin akun-akun ig para baking chef, fotografer yg kerjaanya menang kontes mulu (asli bikin sirik), sama food blogger (yg postinganya bikin ngiler terus). Tujuanya sih belajar dari mereka, dan melatih mata untuk membuat standar kualitas mutu. Lumayan positifkan kegiatan stalker ane? Hehe.. 



Awalnya sih begitu. Tapi lama-lama saya malahan kepoin ig selebritis, apalagi ‘diva’ yg kemarin bales-balesan caption sama anaknya (eh!). Terus saya juga kepoin ig artis ftv yg banyak hatersnya itu. Malahan para hatersnya bikin akun khusus buat ngejek si artis ini. Saya sih sebenarnya nggak benci loh sama doi, tapi caption di akun haters itu lucu n bikin ngakak. Jadilah saya kepoin juga. 

contoh caption ig haters yg bikin ngakak
 

Lama-lama saya menyadari bahwa saya lebih sering kepoin ig artez daripada ig yg lainya. Kalo lagi iseng, langsung deh cek ig. Ternyata membentuk kebiasaan buruk itu gampang banget ya? Padahal saya gagal terus membentuk kebiasaan bangun jam 4 pagi. Hiks!

Menyadari bahwa saya perlu menghentikan kebiasaan kurang baik ini, saya pun bertanya ke diri sendiri mengenai motivsi saya ngecekin ig artis, kurang lebih gini dialognya:
Aq : sebenernya kenapa sih ngecek ig artis itu menyenangkan buat saya?
Saya :Karena foto-foto mereka menarik.
Aq: Apanya yg menarik, dan mengapa cuma ngecek ig artis tertentu yg banyak dramanya aja?
Saya : Karena membahas drama hidup mereka menarik. Acara infotaiment laku karena alasan yg sama toh?
Aq: Mengapa drama hidup mereka menarik?
Saya : Karena saya senang menertawakan kekonyolan sikap/pola pikir mereka
Aq: Mengapa senang menertawakan hidup orang lain? Jawab yg jujur!
Saya : Entahlah, itu hiburan tersendiri buat saya dan terkadang membuat saya merasa lebih baik mengenai diri saya sendiri.
Aq : Oh, jadi kamu meningkatkan ego kamu sendiri dengan keburukan orang lain?



Bam! Fakta itu menyentak saya. How pathetic am i ? Ah, saya jadi teringat dengan salah satu artikel mengenai hati yg bening. Salah satu tanda seseorang memiliki hati yg bening adalah selalu mengharapkan kebaikan bagi orang lain. Sebaliknya, hati yg berpenyakit adalah hati yg senang dengan keburukan orang lain. Pertanyaanya, jika saya bisa melihat kondisi hati saya, berwarna apakah dia? Apakah ia dipenuhi dengan noda hitam atau malahan hitam legam? Padahal nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata:

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Sayapun merenung mengenai dosa yg berlipat-lipat hanya gara-gara ngecekin ig artis : pertama saya mengorek-ngorek kelemahan orang lain , kedua saya merasa bahwa saya lebih baik dari si artis itu, ketiga saya membuang-buang waktu pada perkara yg sangat tidak bermanfaat sama sekali. Padahal, salah satu bentuk iman adalah meninggalkan perkara yg tidak penting bagi dirinya seperti pada hadist berikut:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya’.” [Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya seperti itu]

Saya pun merenung, masa cuma untuk refreshing mata 10 menit aja, dosanya udah bejibun gini? Rugi amat! Mungkin hal ini terkesan sepele ya, tapi ancamanya dalam Islam nggak sepele sama sekali! Saya merasa harus menghentikan kebiasaan  buruk ini, saya percaya kualitas seseorang dapat dinilai dari kebiasaanya.  Saya pun mencoba ngerem jempol saya sebelum buka ig dan mencoba untuk fokus pada akun yg positif dan bermanfaat aja.  Doain semoga saya bisa konsisten ya!


Minggu, 01 November 2015

Bolu Kukus Mekar Rasa Kopi



Salah satu kue yg Bagas kenceng makanya adalah bolu kukus mekar. Mungkin karena kue ini nggak bikin eneg ya, jadi dia bisa makan 2 biji sekaligus. Hehe... pokoknya dibanding kue-kue lain, Bagas lebih antusias kalau liat kue ini. So, dalam rangka edisi sayang anak, aq memutuskan untuk teratur bikin bolu kukus mekar. Rencananya sekali 2 minggu aq akan nyobain berbagai resep bolu kukus mekar, kan jenisnya banyak banget tuh, semoga pembaca nggak pada bosen ya.. hihi..

Tanggal 29 Oktober kemarin, aq memulai eksekusi rencanaku. Aq nyobain bolu kukus kopi, resepnya aq lupa catet darimana soalnya udah lama sih. Dan ini dia hasilnya, aq emang nggak kasih pewarna jadi warnanya putih kelabu gitu:

bolu kukus mekar kopi


Jumat, 30 Oktober 2015

Raisin Loaf



Di postingan soal kismis muffin, aq ngasih tau kan kalo aq beli kismis diskon? (ih, beli barang diskon aja bangga bener, sampe diumumin berulang-ulang). Nah, berhubung tanggal expirednya udah deket (bulan Desember) jadi aq merasa harus ngabisin itu kismis secepatnya. Tapi aku lagi nggak pengen bikin muffin lagi, maunya nyobain resep baru. Coba bolak-balik stok resep yg kira-kira pake kismis, nggak ada yg bikin ngiler. Eh, aq malahan ngiler dengan gambar loaf jeruk. Kayaknya asik tuh ngupi-ngupi bareng suami sambil makan loaf. Ya udah, aq cari deh resep raisin loaf di internet dan aku pun memutuskan untuk eksekusi resep dari situs allrecipes tanggal 25 Oktober kemarin. Dan ini penampakan hasil kismis loaf buatanku:

raisin loaf, fresh from the oven

Loaf itu apaan sih?

Jumat, 23 Oktober 2015

Cupcake Ubi Merah



Masih dengan edisi semangat makan ubi merah, tanggal 17 Oktober kemarin aq mencoba mengeksekusi resep berbahan dasar ubi merah. Kali ini aq nyobain cupcake ubi merah dari situs allrecipes yang sedikit kumodifikasi. Dan ini dia hasilnya:

cupcake ubi merah,yum!

I love this recipe!

Selasa, 20 Oktober 2015

Brownies Ubi Merah Kukus



Baru-baru ini suami dengerin kajian sinshe Abu Muhammad Fariz Al Qiyanji soal manfaat ubi merah. Jadi, dengan semangat si mas mengajaku untuk merutinkan makan ubi merah, seperti sarapan pake ubi rebus. Berhubung aq termasuk termasuk kelompok penyuka keju kayak di lagu  jadul itu, otomatis aq kurang suka ubi rebus. So, aq memutuskan mencari resep olahan ubi jalar di berbagai situs. Dapat sih beberapa, tapi lebih banyak resep ubi ungu. Mungkin karena warnanya lebih menarik ya? Tapi kupikir gpp deh pake resep ubi ungu tapi diganti dgn ubi merah aja. Jadilah tgl 12 Oktober, aq mencoba resep dari blog mbak diah didi. Dan ini hasilnya:


brownies ubi merah (foto kurang jelas, soalnya diambil malam2)


Senin, 19 Oktober 2015

Kismis Muffin



Salah satu rasa muffin yg terkenal yaitu blueberry muffin. Dan aq punya 1 resep blueberry muffin yg gambarnya asli bikin aq ngiler. Tapi di PKU, blueberry bukan buah yang lazim dijual. Kemaren aq sempat liat sih di lucky, tapi harganya nggak ada. Mungkin lumayan ‘wow’ ya, jadi harganya nggak dicantumin. Eike nggak berani ambil deh jadinya. Terus, waktu belanja ke Giant, eh ada kismis diskon, aq beli donk! (iya, saya hobby diskonan, situ jugakan? Hoho) . Soalnya, menurut resep, blueberry nya bisa diganti dengan kismis. Walaupun aq yakin rasa blueberry dgn kismis beda, dgn semangat 45 tanggal 3 Oktober kemaren aq nyobain resep ini. Dan ini dia hasilnya:


kismis muffin

Pada dasarnya, trik membuat muffin adalah

Minggu, 18 Oktober 2015

Apple Pie



Tanggal 26 September kemarin aku memutuskan untuk membuat pai apel. Aq emang suka dengan makanan tradisional Inggris ini. Pokoknya tiap ngeliat apel pai di majalah/tv bawaanya ngiler aja deh.  Dulu sih aq pernah nyoba bikin kue ini, tapi gatot! Habis itu, males mau nyoba lagi. Waktu itu nyobain atasnya yang model keranjang, tapi adonanya susah banget dicetak, akhirnya karena gak sabar kugiling asal aja kayak bikin kue keju gintil. Pokoknya nyebelin deh! 

Tapi, rasa males untuk nyoba itu hilang gara-gara aq pergi ke toko buah. Mengapa? Soalnya apel ijo lagi diskon jadi harganya murah. Haha... jadilah aq memutuskan untuk membuat apel pai lagi. Dan tau nggak sih??? Kali ini aq sukses mbikin pai apel! (Sok banget ya? Gimana lagi donk, lagi seneng soalnya) dan ini dia hasil gambarnya:

apple pie in slice


Tentu saja aq nggak make resep sebelumnya yg aq dapat dari tabloit jadul si mama. Aq pake resep dari situs seriouseats , dan dengan resep ini, bikin adonan pai terasa jauh lebih mudah. Ketemu resep ini serasa dapet harta karun nih, soalnya disamping bikinya mudah rasanya juga enak. Ula..la.. ! So pasti aq akan bikin resep ini lagi kalo lagi ada apel ijo!

apple pie,fresh from the oven


Mungkin yg ngeliat gambar nanya gini dalam hati,’kok kuenya item gitu? Gosong ya?’. Aq juga mikir gitu waktu liat di oven pertama kali. ‘yah..gosong’, pikirku waktu itu. tapi untungnya rasa pai-nya nggak gosong sama sekali. Jadi begini ceritanya, menurut resep, pai kudu dipanggang dengan suhu 425 F. Jadi, aq melakukan perhitungan konversi ke celcius, jika titik didih farenheit 212 derajat=100 derajat celcius, berarti 425F=200C, ya kan? Nah, karena ovenku gak bisa mencapai suhu 200C, jadi aq panggang di suhu 180C. Terus aq tinggalin si oven karena Bagas minta nyusu. Pikiranku toh suhunya lebih rendah, jadi ditinggal 20 menit gpp deh kayaknya. Eh, pas balik 20 menit kemudian warnanya udah begitu. hehe.. Overcooked tapi belum sampe gosong. Mungkin si empunya resep pake oven listrik, jadi hasilnya beda dengan pemakai oven kompor rumahan kayak punyaku ini. Mungkin sesi berikutnya aq cukup di suhu 150C aja deh. 

Add caption


Walaupun aq nggak bisa ngikutin petunjuk resep dalam hal pemanggangan, ada beberapa tips yang diberikan oleh seriouseats yg bisa kita praktekin, diantaranya:

1.       Simpan bahan-bahan seperti mentega dan air di kulkas, jangan di suhu ruang seperti membuat kue-kue yang lain.
2.       Ketika mencampurkan tepung, masukan 2/3 takaran dulu, setelah tercampur hingga hampir membentuk adonan, baru masukan sisa tepungnya.
3.       Untuk mengaduk air dengan adonan, gunakan spatula. 

Nah, buat yg pengen bikin juga, silahkan kunjungin langsung situsnya, soalnya aq males banget ngetik ulang resepnya. Happy baking!

apple pie, everybody?

Kamis, 15 Oktober 2015

Muharram 1437 H

-3 Muharram 1437 H
Isilah usiamu dgn ketaatan, dan realisasikan ucapanmu dgn perbuatan, karena umur manusia yg sesungguhnya adalah yg ia isi dgn ketaatan kepada Allah-Asy Syaikh Utsaimin Rahimahullah
-13 Muharram 1437 H
Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak sholat
-14  Muharram 1437 H
Al-Quran adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat. Atau penyakit Syubuhat, yang mengotori aqidah dan keyakinan. Karena dalam al-Quran terdapat nasehat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.
Jika muncul dalam perasaannya, motivasi untuk berbuat baik, dan rasa takut untuk maksiat, dan itu terus berkembang karena selalu mengkaji makna al-Quran, itu akan membimbing dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah dari pada bisikan nafsunya. Sehingga dia menjadi hamba yang lebih mencari ridha Allah dari pada nafsu syahwatnya.

Rabu, 14 Oktober 2015

Memuliakan Manusia Menurut Islam





Tak sedikit kita mendengar konflik yang disebabkan karena ‘membela kehormatan dan martabat’. Kehormatan dan martabat adalah satu bagian vital dari hidup manusia. Siapapun itu, pasti takkan senang ketika kehormatan dan martabatnya direndahkan oleh orang lain. Ketika kehormatanya mulai direndahkan, manusia akan bereaksi untuk membela diri. Hal itu sudah merupakan naluri dasar manusia. Gerakan HAM merupakan upaya manusia untuk membela kehormatannya akibat  penindasan oleh penguasa yang kejam dan diskriminatif sekitar tahun 1215M. 

Hingga saat ini HAM masih menjadi jargon untuk membela kehormatan dan martabat manusia.  Hal ini ibarat pedang bermata dua, di satu sisi HAM membela kepentingan manusia, di sisi lain HAM menuntut penyamarataan perlakuan dan logika berpikir. Sehingga apapun itu, ajaran agama ataukah kearifan lokal yang tidak sejalan dengan konsep HAM akan dicap meremehkan kehormatan manusia. Tuntutan menyamaratakan konsep menjaga kehormatan ini yang menimbulkan konflik tersendiri. Sebab menjaga kehormatan manusia tak hanya terdapat pada Magna Charta, Bill Of Right, dan piagam-piagam sejenis yang merupakan hasil logika manusia. Namun agama juga telah mengatur konsep kehormatan dan martabat manusia. 

Salah satu agama yang cukup sering dituding anti HAM adalah Islam. Berita miring tentang Islam merendahkan kehormatan manusia tak jarang  menghiasi berbagai media massa. Mulai dari perilaku umatnya, literatur sejarahnya, hingga syariat agama Islam dipertanyakan dan diperdebatkan. Fenomena yang baru-baru ini terjadi contohnya. Sekelompok orang yang menyebut dirinya ISIS melakukan berbagai tindakan yang tidak saja merendahkan kehormatan tapi bahkan dengan mudahnya menumpahkan darah manusia. Mereka pun tak segan melakukan tindakan yang sadis dan mempertontonkanya pada masyarakat luas. 

Apa yang dilakukan ISIS tentu saja bertentangan dengan Islam. Meskipun ISIS berpenampilan seperti kaum muslimin dan menggunakan berbagai lambang dalam agama Islam, mereka tidak dapat disandarkan pada Islam. Penyimpangan yang terdapat  dalam perilaku dan doktrin ISIS, sudah pasti bukan bagian dari ajaran Islam. Hal ini dapat dilihat pada firman Allah Subhanahu Wata’ala berikut:

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Ma`idah: 32)

Firman Allah di atas adalah landasan sekaligus bukti bagaimana umat muslim memandang tingginya nyawa manusia. Dalam Islam tidak dibenarkan bergampang-gampang membunuh manusia. Membunuh seseorang dihukumi dengan membunuh manusia seluruhnya dan memelihara kehidupan seseorang diibaratkan dengan memelihara kehidupan manusia seluruhnya. Dari terjemahan surat Al Ma’idah di atas, kita juga dapat melihat bahwa kata yang digunakan adalah ‘manusia’ bukan ‘muslim’, hal ini menunjukan bahwa larangan menumpahkan darah ini tidak hanya berlaku bagi muslim semata namun juga larangan membunuh non muslim tanpa alasan yang dibenarkan.

Disamping tindakan ISIS adalah hal yang tidak dibenarkan dalam Islam, landasan perbuatan merekapun tak dibenarkan dalam Islam. ISIS menyatakan siapa pun yang tidak mau membai’at khalifah mereka, maka mereka pantas untuk dibunuh. Hal ini jelas bertentangan dengan Islam, sebab muslim wajib menyelesaikan bai’at mereka yang pertama, yaitu kepada presiden/pemimpin resmi yang muslim ditempat mereka berdomisili. Dan tidak ada paksaan untuk membai’at seseorang di dalam Islam. 

ISIS jelas menjadi fitnah bagi agama Islam dan penganutnya. Padahal umat muslim di seluruh dunia yang mengetahui penyimpangan ISIS melakukan berbagai upaya untuk meredam ISIS. Bahkan upaya kerja sama beberapa negara dengan Arab Saudi untuk menggempur ISIS juga telah dilakukan. Aksi sosial dari negara Islam untuk membantu warga sipil di Suriah juga digulirkan, seperti pemberian kebutuhan pokok dan bantuan bagi warga sipil Suriah yang hendak pindah ke tempat yang aman. Disamping itu berbagai ormas dan kelompok Islam menyebarluaskan penyimpangan ISIS melalui berbagai kegiatan dakwah dan media massa untuk mencegah pemuda-pemudi terkena pengaruh ISIS. Berbagai upaya ini masih dilakukan hingga sekarang, sebab solidaritas di dalam Islam amat ditekankan seperti hadist yang saya kutip berikut:

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR. Muslim no. 2586)  (1)

beberapa aksi sosial untuk Suriah (sumber : muslim.or.id dan moslem channel)


Hadist yang saya kutip di atas menunjukan bagaimana Islam adalah agama yang penuh kasih sayang, saling memperhatikan dan menganjurkan untuk berakhlak mulia kepada orang lain. Hal ini tidak terbatas hanya di lingkup sesama muslim semata namun juga terhadap non muslim, seperti ayat Al-Qur’an yang saya kutip di bawah ini: 

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik (dalam urusan dunia) dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah :8).
Berdasarkan firman di atas, kita dapat melihat bahwa muslim diperintahkan untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap non muslim yang tidak memerangi umat muslim. Yang termasuk dalam berbuat baik disini adalah tidak mengganggu harta, darah dan kehormatan mereka. Sebab mengganggu ketiga hal tersebut termasuk dalam kezaliman yang haram hukumnya dalam agama Islam. 

Lalu bagaimana dengan kelompok non muslim yang memerangi muslim? Apakah muslim berlaku kejam dan merendahkan kehormatan mereka?. Tak sedikit literatur sejarah yang menimbulkan pemikiran seperti itu mengenai umat muslim, baik dalam peperangan maupun setelah peperangan dengan diperbolehkanya perbudakan atas tawanan perang. Perang dan perbudakan adalah dua tema utama yang cukup sering ditudingkan kepada Islam sebagai agama yang bertentangan dengn HAM. Berikut penjabarannya mengenai kedua hal tersebut.

Islam menghormati musuh

Dalam literatur sejarah Islam terdapat cukup banyak kisah peperangan sejak zaman Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam. Islam dianggap haus darah dan intolerant karena banyaknya referensi sejarah mengenai perang yang tak berimbang. Padahal tujuan perang dalam Islam adalah membela agama Allah bukan untuk membela suku/bangsa tertentu, perebutan kekuasaan ataupun perkara dunia lainya. Perang merupakan alternatif terakhir setelah dilakukan perundingan dan pemberian peringatan terhadap musuh. Dan pada dasarnya sebagian besar penyulut perang dalam Islam adalah pengkhianatan dan pembatalan perjanjian damai oleh musuh. 

Bahkan didalam berperang, umat muslim diberi rambu-rambu agar tetap menghormati hak musuh. Islam melarang membunuh wanita, anak-anak, musuh yang telah menyerah, orang yang tidak ikut terlibat perang, bahkan pendeta yang sedang beribadah di tempat ibadahnya. Tidak hanya itu, Islam pun melarang untuk merusak tanaman, mata air dan sumber penghidupan orang banyak. Para tawanan perang juga tidak dipaksa untuk masuk Islam ataupun membayar jisyah (denda) yang tinggi. 

Hal yang luput dari perhatian orang yang membaca sejarah Islam adalah negara Islam tidak pernah menyiksa lawan perangnya yang telah kalah. Umat muslim hanya mengambil harta rampasan perang dan tidak pernah menjajah atau berlaku sewenang-wenang terhadap lawanya yang telah kalah. Bahkan pada salah satu kisah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima permintaan damai yang diajukan oleh musuhnya yang telah terdesak, seperti yang terjadi pada perang Khaibar. Padahal Yahudi Khaibar telah memerangi umat muslim dengan mengerahkan segala kemampuan mereka sejak dua tahun sebelum perang terjadi. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepakat untuk berdamai dan hanya meminta mereka meninggalkan Khaibar serta menyerahkan harta mereka kecuali pakaian yang mereka kenakan. Jika Islam tidak memandang kehormatan dan martabat manusia, tentu mereka akan mendapat perlakuan buruk atau bahkan penyiksaan. Tapi  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru melindungi darah mereka.
 
Perilaku penuh hormat kepada musuh tidak hanya terdapat pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semata. Peristiwa perang Salib dari seorang orientalis Jerman bernama Sigrid Hunke yang saya kutip di bawah ini pun menunjukan bagaimana Islam menghormati tawanan perangnya.

Hunke mengisahkan sebuah dokumen penting yang merupakan catatan dari tentara salib saat menjadi tawanan Sultan al-Kamil al-Ayyubi. Hunke mengatakan, “Saat Sultan al-Kamil memenangkan pertempuran pada tahun 1221 M, ia memperlakukan tawanannya dengan hormat. Ia tidak mengqishas tawanan tersebut; mata dengan mata dan gigi dengan gigi. Yang ia lakukan adalah memberikan mereka makanan. Ia mengirimkan uang sebanyak 30.000 Raghif. Dan memberi makanan lainnya. Apa yang dilakukannya ini disaksikan oleh seorang tawanan yang merupakan seorang filsuf dan teolog Jerman dari Kota Cologne yang bernama Oliveros. Belum pernah terdengar sekelompok pasukan memperlakukan tawanannya dengan cara lemah lembut dan dermawan seperti ini, khususnya tawanan yang merupakan musuh di medan peperangan… … (tawanan mengatakan) Orang-orang yang kami bunuh ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, dan kami perlakukan dengan kejam, ternyata kemudian kami menjadi tawanan mereka. Dan hampir-hampir kami mati kelaparan. Mereka malah mengutamakan diri kami dibanding mereka sendiri. Mereka membantu kami dengan segala daya dan upaya. Kami merasakan kasih sayang mereka, padahal saat itu kami tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan.” (Sigrid Hunke, Allahu Laysa Kadzalik, Hal: 33).

Islam meningkatkan martabat budak

Perbudakan adalah hal yang tidak dilarang dalam Islam. Dan perbudakan mungkin menjadi salah satu tema tuduhan utama bahwa Islam meremehkan martabat dan kehormatan manusia. Padahal jika ingin jujur, para anti Islam tentu mengetahui bahwa budaya perbudakan telah ada sejak sebelum Islam. Bangsa Romawi, Persia, Babilonia, dan Yunani, seluruhnya mengenal perbudakan. Begitu juga bangsa Eropa ketika menemukan Benua Amerika, mereka pun memperbudak dan memandang rendah penduduk lokal. Mereka memiliki banyak penyebab untuk memperbudak seseorang diantaranya, perang, tawanan, penculikan, menjual anak-anak yang menjadi tanggungan atau karena menjadi pencuri. Mereka memandang dan memperlakukan budak dengan keji, memberikan pekerjaan yang sangat berat serta penyiksaan yang sangat merendahkan martabat manusia.

Perlakuan dan pandangan  ini sangat berkebalikan dengan perbudakan dalam Islam. Satu-satunya penyebab seseorang menjadi budak dalam Islam adalah musuh yang telah menjadi tawanan perang. Mungkin sebagian orang bertanya mengapa Islam tidak mewajibkan pembebasan budak, meski tawanan perang sekalipun? Islam tidak mewajibkan pembebasan budak karena tidak semua budak mampu untuk merdeka berdiri sendiri. Para budak dari kelompok anak-anak dan wanita belum tentu mampu menghidupi dirinya sendiri. Sementara budak laki-laki dari tawanan musuh tidak dimerdekakan agar tidak mengganggu umat muslim beribadah dan berdakwah.

Satu sikap yang wajib dalam Islam berkenaan dengan perbudakan adalah bersikap lembut dan kasih sayang terhadap mereka. Bahkan Islam mengangkat martabat mereka dengan panggilan yang baik, serta memandang mereka sebagai saudara dari tuan mereka. Islam juga menentang penyiksaan terhadap budak, barang siapa melukai tubuh budaknya maka ia wajib membebaskan budaknya tersebut. Terdapat banyak perintah dan larangan yang berkaitan dengan bersikap lembut terhadap para budak, salah satunya hadits yang saya kutip di bawah ini.

”Mereka (para budak) adalah saudara dan pembantu kalian yang Allah jadikan di bawah kekuasaan kalian, maka barang siapa yang memiliki saudara yang ada dibawah kekuasaannya, hendaklah dia memberikan kepada saudaranya makanan seperti yang ia makan, pakaian seperti yang ia pakai. Dan janganlah kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang memberatkan mereka. Jika kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang berat, hendaklah kamu membantu mereka. (hadist Shahih, Diriwayatkan oleh Bukhari I/16, II/123-124 dan IV/125)
(2)

Disamping tuntunan untuk berlaku lembut terhadap para budak, Islam juga mendorong memerdekakan budak dengan berbagai cara, diantaranya adalah janji balasan pahala yang besar  bagi muslim yang mau memerdekakan seorang budak, serta menjadikan memerdekakan budak sebagai kaffarah (penebus) dosa-dosa tertentu. Berikut satu hadist yang menunjukan tingginya nilai ibadah memerdekakan seorang budak:

“Barang siapa membebaskan budak yang muslim niscaya Allah akan membebaskan setiap anggota badannya dengan sebab anggota badan budak tersebut, sehingga kemaluan dengan kemaluannya.” (hadist Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Fathul Bari V/146 dan Shahih Muslim No. 1509) (3)

Dari pemaparan di atas, kita dapat mengerti bagaimana Islam memandang tinggi kehormatan dan martabat manusia. Jika syariat Islam mewajibkan berlaku lembut dan menghormati musuh dan budak, apalagi terhadap kelompok yang tidak memerangi Islam dan pribadi yang merdeka. 

“Sesungguhnya darah, kehormatan dan harta kalian diharamkan atas kalian (saling menzholiminya) seperti kesucian hari ini, pada bulan ini dan di negri kalian ini sampai kalian menjumpai Robb kalian. Ketahuilah apakah aku telah menyampaikan?” Mereka menjawab, “Ya”. Maka beliau pun bersabda, “Ya Allah persaksikanlah, hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena terkadang yang disampaikan lebih mengerti dari yang mendengar langsung. Maka janganlah kalian kembali kufur sepeninggalku, sebagian kalian saling membunuh sebagian lainnya.”(HR Al Bukhari kitab Al Ilmu -no. 67) (4)

Tulisan ini saya ikutkan dalam lomba #70thICRCid.
Catatan kaki:
(4)   http://muslim.or.id/4041-memahami-arti-jihad.html

Sabtu, 10 Oktober 2015

30 Hari Menciptakan Peluang


Saya adalah seorang kontes menulis hunter. Hal itu bisa dilihat pada postingan blog saya yang mayoritas isinya kontes. Matre ya? Emang! Hehe.. Sebenarnya, alasan saya ikut kontes menulis adalah karena ingin mengetahui, segimana sih level kemampuan menulis saya. Apakah ada peningkatan setelah saya mencoba bertekun menulis? 

Saya mulai terjun ke dunia perlombaan tahun 2014 kemarin. Awalnya, saya berusaha ikut lomba sebanyak-banyaknya. Pokoknya yang penting jadi, terus kirim. Terus, tiap pengumuman dengan pedenya saya berharap menang. Akhirnya, kecewa melulu yang saya dapatkan. Tapi, dengan terus kalah itu saya sadar, kemampuan saya nggak ada apa-apanya. Jadi berubahlah mindset saya untuk ikutan lomba dari mengharapkan kemenangan menjadi ajang belajar menulis.

Ritme dalam mengikuti lomba juga saya ubah. Saya nggak berusaha lagi untuk mengikuti lomba sebanyak-banyaknya. Saya lebih fokus gimana caranya menghasilkan tulisan yang bagus. Apalagi waktu yang dimiliki untuk menulis memang tak banyak. Akhirnya, untuk menyelesaikan 1 artikel lomba saya membutuhkan waktu sekitar satu bulan.  Lama ya? Ya emang begitu, soalnya dalam sehari saya cuma punya waktu 30 menit untuk menulis. Menurut saya, biar sedikit yang penting rutin deh. wong nulis 30 menit sehari aja, urusan rumah kadang keteteran (senyum manis ke suami).

Saya juga milih-milih sebelum memutuskan untuk ikut lomba (ih! Newbie aja sok banget). Walau hadiahnya gede, saya nggak akan ikut lomba yang temanya bertentangan dengan keyakinan saya. Misalnya lomba tentang/disponsori perbankan riba, anjuran KB, dan hal lain yang bertentangan dengan Islam. Biasanya saya milih tema yang menuntut saya belajar dan banyak baca. Jadi walau nggak dapet hadiah, minimal dapet wawasan deh. 

Nah, setelah memilih lomba yang akan diikuti barulah priode saya menulis yang 30 hari itu dimulai. Pada dasarnya, waktu yang 30 hari itu terdiri dari 3 kegiatan : cari ide dan bahan, penulisan, pengeditan. Untuk cari ide yang orisinil itu nggak mudah, padahal ide yang oke adalah modal dasar tulisan yang bagus. Kadang saya nyari ide di perpustakaan atau toko buku disamping cari ide melalui internet. Setelah tema tulisan ditentukan, barulah saya mengumpulkan bahan pendukung. 

Setelah ide dan bahan terkumpul, fase menulis pun dimulai. Sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa saya menulis 30 menit sehari bukan? Sebenarnya saya kurang detail menjelaskanya. Saya mengetik 30 menit sehari sambil menyusui anak saya, si Bagas. Yup, saya mengetik dengan 1 tangan alias 1 jari. Ini salah satu alasan utama kenapa saya perlu waktu lama untuk selesaiin tulisan. Sekali lagi saya katakan, cuma itu waktu yang saya punya. Mungkin ada yang bertanya, kenapa nggak tiap kali menyusui aja ngetiknya biar cepat selesai? Pengenya sih begitu, tapi kasian si Bagas kalau tiap menyusui dicuekin sama emaknya. Jadi, saya batasin untuk nyuri waktu nyusu Bagas 1x sehari aja. Hehe.. Dan berhubung  si Bagas anaknya lasak, terkadang leher saya jadi pegel kalau habis ngetik karena harus memanjangkan leher untuk liat layar laptop yang kehalang kepala dia.

tempat ngetik tulisan ter PW,laptop di kanan-Bagas di kiri
Setelah tulisan rampung, fase pengeditan pun dimulai. Menurut salah satu artikel yang pernah saya baca, sebuah tulisan itu perlu diedit 3 kali : pertama untuk mengedit kesalahan pengetikan dan tanda baca, kedua untuk mengedit penggunaan kata dan keefektifan kalimat, ketiga untuk menilai tulisan secara keseluruhan dan menilai tulisan tersebut dari sudut pandang pembaca. Rempong ya? Tapi saya setuju untuk mengikuti saran artikel tersebut. Untungnya saya punya editor pribadi, si mas suami yang pensiunan blogger. Walaupun dia juga nggak jago-jago banget nulis J, paling nggak dia ngertilah standar tulisan yang bagus itu gimana. Meminta orang lain membaca tulisan kita itu perlu loh, soalnya kita sebagai penulis nggak akan bisa menilai tulisan kita sendiri secara objektif. Dan untungnya, suami nggak basa-basi kalau ngritik tulisan saya. 

Begitulah, setelah nggak ada lagi yang rasanya perlu diedit barulah artikel dikirim. Biasanya sih saya termasuk golongan deadliners. Bukan karena takut dicontek loh, tapi emang tulisanya baru selesai menjelang deadline.
Terus apa dong yang udah didapat dari kontes menulis? Kalo bersifat materi sih belum ada, tapi saya dapet ilmu dan kekebalan hati. Soalnya saking seringnya kalah, saya jadi nggak bete lagi walau nama saya nggak ada di daftar pemenang. Yang bikin saya bete kalau ada yang ngadain lomba, terus nggak ada pemenangnya. Ih! Nggak banget! 

Walaupun kemungkinan menang lomba itu kecil bagi saya, tapi saya tetep ikut. Karena saya percaya bahwa dengan berpartisipasi saya punya dua kemungkinan, menang atau kalah. Tapi kalau nggak ikutan sama sekali sudah pasti saya tak punya peluang menang, bukan? Jadi, ikutan lomba adalah upaya saya untuk menciptakan peluang. Buat kamu yang masih belum pede/males ikutan lomba, yuk ciptakan peluangmu!

Tulisan ini diikutkan Giveaway Cerita di Balik Blog